— Presiden The Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, menyampaikan peringatan mengenai potensi inflasi di Amerika Serikat yang bertahan di atas target bank sentral. Ia mengungkapkan bahwa risiko inflasi tetap tinggi di atas sasaran 2% yang telah ditetapkan.

Pernyataan ini menjadi dasar dukungan Collins terhadap keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan lalu. Melalui unggahan di akun LinkedIn, Collins menilai bahwa tingkat suku bunga federal yang sedikit lebih ketat sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan ekonomi.

Menurut pandangannya, penyesuaian kebijakan moneter ini akan membantu memastikan inflasi kembali turun ke target sasaran secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Meskipun tidak memiliki hak suara dalam penetapan kebijakan tahunan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Collins tetap aktif berpartisipasi dalam rapat dan penyusunan arah kebijakan.

Pada siklus rotasi pemungutan suara tahun 2025, Collins secara konsisten mendukung keputusan mayoritas komite. Dukungannya mencakup keputusan menahan suku bunga pada Juli 2026 serta penurunan suku bunga berturut-turut pada periode September, Oktober, dan Desember.

“Berdasarkan seluruh data yang ada, saya melihat adanya peningkatan probabilitas skenario masa depan di mana inflasi tetap berada di atas target 2% secara signifikan,” tulis Collins. Ia menambahkan bahwa terlepas dari peningkatan risiko inflasi tersebut, kondisi pasar tenaga kerja AS saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih solid dengan tingkat pengangguran yang tetap rendah.

Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil ini memberikan ruang bagi The Fed untuk mengalihkan fokus utama kebijakan moneternya guna mengembalikan stabilitas harga. Perekonomian AS telah menghadapi tekanan inflasi yang tergolong tinggi selama lima setengah tahun terakhir.

Dukungan terhadap sikap pengetatan moneter ini juga tercermin pada ekspektasi pasar keuangan. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar terbelah terkait arah kebijakan selanjutnya. Sekitar 53,1% memprediksi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC Oktober 2026.

Sinyal ketatnya inflasi global ini juga sejalan dengan pandangan dari Eropa. Anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Philip R. Lane mengindikasikan gelombang kedua kenaikan harga energi berpotensi menahan laju inflasi tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Dalam wawancaranya bersama media Swiss, Le Temps, Lane menjelaskan ECB memproyeksikan adanya tekanan kenaikan harga pada sektor pangan, energi, listrik, serta komoditas barang secara umum.

Lane memperingatkan, jika kejutan harga energi ini berlangsung lebih besar dan bertahan hingga musim gugur, hal tersebut dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Zona Euro. Kebijakan suku bunga yang diterapkan oleh bank sentral utama seperti The Fed dan ECB merupakan instrumen utama dalam mengendalikan dinamika inflasi pascapandemi dan dinamika geopolitik global.

Selama beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi serta ketatnya pasar tenaga kerja terus menekan daya beli masyarakat di berbagai negara. Sinergi antara pengetatan kebijakan moneter dan stabilitas sektor ketenagakerjaan menjadi kunci bagi para pembuat kebijakan untuk menekan laju inflasi tanpa memicu resesi ekonomi yang lebih dalam.