DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menunjukkan pelemahan dalam sepekan terakhir. Tercatat, mata uang Garuda tergerus 56 poin atau 0,31%, bergerak dari level Rp 17.847 menjadi Rp 17.903 per dolar AS selama periode 21 hingga 25 September 2026.
Pada awal perdagangan Senin, 21 September 2026, rupiah dibuka melemah 33 poin (0,19%) di posisi Rp 17.791 per dolar AS. Penutupan perdagangan di hari yang sama juga diwarnai pelemahan 89 poin (0,50%), mengakhiri hari di level Rp 17.847.
Selasa, 22 September 2026, pelemahan berlanjut. Rupiah kembali melemah 40 poin (0,22%) saat pembukaan, mencapai Rp 17.887. Di akhir perdagangan, pelemahan bertambah 37 poin (0,21%), membuat rupiah ditutup di angka Rp 17.884.
Rabu, 23 September 2026, sempat terjadi penguatan. Kurs rupiah dibuka menguat 40 poin (0,22%) di level Rp 17.844. Penguatan berlanjut hingga penutupan perdagangan, mencapai 66 poin (0,37%), mengamankan rupiah di level Rp 17.818.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki Kamis, 24 September 2026, rupiah kembali jatuh 52 poin (0,29%) saat pembukaan, berada di Rp 17.870. Pelemahan signifikan terjadi di akhir perdagangan, dengan rupiah ditutup ambles 98 poin (0,55%) ke level Rp 17.916.
Menjelang akhir pekan, pada Jumat, 25 September 2026, rupiah kembali jatuh 25 poin (0,14%) di level Rp 17.941. Meskipun demikian, rupiah berhasil mengamankan posisinya di penutupan perdagangan dengan menguat tipis 13 poin (0,07%) ke level Rp 17.903.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tren koreksi pada mata uang rupiah akan memasuki babak baru pada Senin berikutnya. “Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.900 – Rp 17.950 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Ibrahim juga memperkirakan nilai tukar rupiah sepekan ke depan akan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.100 per dolar AS. Menurutnya, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama sinyal dari Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa bank sentral masih perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target dalam waktu yang tepat. Ia juga melihat adanya peluang kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. “Para pejabat Federal Reserve juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan,” ungkap Ibrahim.
Ikuti DailyFX.ID
