DailyFX.ID — Kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional yang hanya mencapai sekitar 18% mengindikasikan adanya tantangan deindustrialisasi yang dihadapi Indonesia. Di tengah upaya pemerintah untuk mendorong hilirisasi dan memperkuat struktur industri nasional, para ekonom menilai kebijakan fiskal memegang peranan krusial untuk kembali mengangkat peran sektor manufaktur dalam perekonomian.
Ekonom Core Indonesia, Hendri Saparini, berpendapat bahwa pemerintah tidak cukup sekadar mendorong pertumbuhan pada subsektor industri tertentu. Menurutnya, Indonesia perlu membangun ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir agar kontribusi manufaktur terhadap perekonomian dapat meningkat secara signifikan.
“Jadi kalau kemudian industrinya tumbuh walaupun rendah, dan sekarang ini kalau kita melihat kondisi industri manufaktur kita itu sebenarnya porsinya terhadap PDB hanya 18%, artinya kita harus membalikkan ini tidak cukup,” ujar Hendri dalam acara The Forum di kantor B-Universe, PIK 2, Selasa (18/8/2026).
Hendri menjelaskan salah satu tantangan dalam pengembangan industri manufaktur adalah sifat investasi di sektor ini yang membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan keuntungan atau return.
“Kalau kita bicara tentang industri, terutama industri manufaktur, industri manufaktur kita ini lebih di-drive oleh industri yang return-nya itu sangat panjang,” katanya.
Karakteristik tersebut menyebabkan tidak semua subsektor manufaktur memiliki prospek investasi yang sama. Industri padat karya seperti pakaian dan alas kaki, misalnya, menghadapi tekanan yang lebih besar dalam kondisi ekonomi saat ini.
“Karena dalam kondisi seperti sekarang ini, kalau kita melihat industri-industri manufaktur yang terkait dengan kondisi saat ini, seperti misalnya industri pakaian, industri sepatu, itu gak akan bisa,” ujarnya.
Sebaliknya, industri yang berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam dinilai masih memiliki prospek investasi dan pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Tetapi industri smelter atau turunan dari sumber daya alam, itu investasinya masih akan tinggi dan juga pertumbuhan masih akan tinggi,” kata Hendri.
Hendri menekankan bahwa strategi industrialisasi Indonesia seharusnya tidak berhenti pada proses hilirisasi satu tingkat. Pemerintah perlu memastikan terciptanya ekosistem industri yang mampu menghubungkan berbagai sektor dari hulu hingga hilir.
“Pertanyaannya adalah kita ini kan ingin membangun industri, tidak hanya melakukan downstream satu level, tapi bagaimana membangun ekosistem industri ini. Nah, itu yang kita harapkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, jika pemerintah hanya mengandalkan sejumlah subsektor tertentu, kontribusi manufaktur terhadap PDB akan sulit meningkat secara substansial. Oleh karena itu, pengembangan industri perlu dilakukan secara lebih merata dan luas.
“Artinya kita harus membalikkan ini tidak cukup. Itu adalah dengan sektor-sektor yang sangat terbatas. Kita harus menggerakkan seluruh sektor,” katanya.
Fiskal untuk Dorong Industri
Selain pembangunan ekosistem industri, Hendri menilai pemerintah perlu mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk memperkuat sektor manufaktur. Menurutnya, instrumen fiskal selama ini lebih banyak diarahkan untuk meningkatkan pendapatan negara dan membiayai belanja pemerintah. Padahal, instrumen tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong investasi dan pengembangan industri nasional.
“Salah satu yang selama ini belum dilakukan dan itu sangat penting adalah kebijakan fiskal,” ujar Hendri.
“Instrumen fiskal ini selama ini baru digunakan untuk satu adalah mendorong income pemerintah atau revenue pemerintah, yang kedua adalah untuk belanja. Tapi belum menggunakan instrumen fiskal ini untuk mendorong industri,” lanjutnya.
Hendri menilai optimalisasi kebijakan fiskal untuk sektor industri menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintah jika ingin meningkatkan kembali kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional.
“Nah, ini PR besar kalau memang pemerintah mengatakan industri harus dibalikkan,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah yang sedang berupaya mendorong hilirisasi industri, pembangunan ekosistem hulu-hilir, serta Strategi Besar Industrialisasi Nasional. Penguatan kebijakan fiskal yang tepat diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan aktivitas industri tertentu, tetapi juga mengangkat kembali kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional hingga melampaui 20%.
Ikuti DailyFX.ID
