— JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45% pada semester I-2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Ekonom senior CSIS, Yose Rizal Damuri, menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya mendorong pertumbuhan lebih tinggi, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi, khususnya investasi, mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas.

Yose menjelaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi memang menjadi indikator penting kinerja perekonomian. Namun, pertumbuhan yang tinggi seharusnya diikuti oleh manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyoroti adanya sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait penciptaan lapangan kerja dan kualitas investasi.

Salah satu catatan penting adalah kondisi ketenagakerjaan. Meskipun tingkat pengangguran relatif rendah, sebagian besar lapangan kerja baru justru tercipta di sektor informal, yang porsinya mencapai sekitar 80%. Di sisi lain, fenomena pengangguran terdidik juga menunjukkan kecenderungan peningkatan.

“Pengangguran itu rendah tetapi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tercipta adanya di sektor informal, bahkan 80%. Kemudian juga pengangguran yang terdidiknya makin hari makin besar,” ungkap Yose dalam sebuah acara diskusi di Tangerang, Selasa (18/8/2026).

Persoalan lain yang diungkapkan Yose adalah kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Nilai investasi yang terus meningkat ternyata belum diikuti oleh penciptaan lapangan kerja dalam jumlah yang memadai. Sebagai perbandingan, pada tahun 2014, setiap Rp 1 triliun investasi mampu menciptakan hingga sekitar 3.500 lapangan pekerjaan. Angka ini kini diperkirakan hanya sekitar 1.200 lapangan pekerjaan.

Yose menambahkan bahwa penurunan kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja ini tetap signifikan, bahkan setelah memperhitungkan faktor inflasi. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan struktur investasi Indonesia yang semakin padat modal dan meninggalkan pola padat karya. Padahal, industri padat karya masih sangat dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, mengingat struktur ketenagakerjaan di Indonesia.

Oleh karena itu, Yose menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya angka pertumbuhan. Pemerintah juga dituntut untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

“Kalau pertumbuhannya tersebut hanya dalam angka, tidak terlihat hasilnya, itu bukan yang kita tuju,” pungkas Yose.