— Tren kenaikan harga pangan yang terjadi belakangan ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Selain dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan fenomena El Nino, para ahli juga menyoroti adanya masalah struktural yang memengaruhi sistem produksi, distribusi, hingga daya tawar para pelaku usaha tani.

Pengamat Pertanian dan Pangan dari Center of Reform on Economic (CORE), Eliza Mardian, berpendapat bahwa El Nino lebih tepat dianggap sebagai pemicu awal atau guncangan yang mengganggu kelancaran produksi. Namun, seberapa lama dampak kenaikan harga ini akan bertahan sangat bergantung pada kapasitas sistem pangan nasional dalam meredam guncangan tersebut.

Eliza menjelaskan bahwa kerentanan sistem pangan Indonesia dapat dilihat dari struktur usaha tani yang ada. Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 17,25 juta petani gurem dari total 27,80 juta petani pengguna lahan. Angka ini setara dengan 62% petani yang hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare.

Dengan skala usaha yang sangat kecil ini, kemampuan para petani untuk berinvestasi dalam infrastruktur seperti irigasi, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta adopsi inovasi teknologi menjadi sangat terbatas. Akibatnya, produktivitas dan pendapatan petani menjadi lebih rentan terhadap perubahan kondisi cuaca.

“Di lahan sekecil itu, investasi irigasi, alsintan, dan inovasi teknologi sulit tertutup oleh tambahan hasil,” ungkap Eliza kepada B-Universe, Senin (14/9/2026).

Ia menambahkan bahwa persoalan pangan memang memiliki ketergantungan yang erat terhadap musim dan ketersediaan pasokan air, terutama untuk komoditas hortikultura. Di sisi lain, mekanisme penyimpanan stok strategis belum tersedia secara merata untuk semua jenis komoditas pangan.

Disparitas harga antar daerah juga menjadi masalah tersendiri. Hal ini disebabkan oleh efisiensi logistik dan infrastruktur distribusi yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Ketika pasokan suatu komoditas terganggu di satu daerah, keterbatasan dalam sistem distribusi dapat memperbesar tekanan harga di wilayah lain.

Selain itu, ketimpangan informasi dan daya tawar yang dimiliki petani kecil serta konsumen rumah tangga membuat posisi mereka cenderung lemah dalam menentukan harga di pasar.

Oleh karena itu, lamanya periode kenaikan harga pangan tidak semata-mata ditentukan oleh kapan kondisi cuaca kembali normal. Jika gangguan pada produksi bertemu dengan keterbatasan stok, distribusi yang tidak efisien, dan lemahnya daya tawar, maka tekanan harga dapat bertahan lebih lama melebihi durasi gangguan cuacanya.

“Perubahan iklim akan menguji resiliensi ketahanan pangan, karena sebagian besar sawah masih bergantung hujan. Ketika kekeringan El Nino menggeser musim tanam, yang goyah bukan hanya produksi, tapi harga dan daya beli masyarakat,” pungkasnya.

BPS Ingatkan Dampak El Nino ke Harga Pangan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengingatkan adanya risiko fenomena El Nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Fenomena cuaca ini berpotensi mengganggu produksi berbagai komoditas pangan dan mendorong kenaikan harga.

Risiko ini perlu diwaspadai mengingat tekanan inflasi pada Agustus 2026 sebagian besar berasal dari kelompok bahan pangan atau komponen harga yang bergejolak.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa prediksi El Nino dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam memantau perkembangan harga pangan ke depan.

“Berdasarkan informasi dari BMKG yang merilis prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027, tentunya kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama dampaknya terhadap perubahan harga beberapa komoditas pangan,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS Pusat, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

BPS mencatat bahwa inflasi pada Agustus 2026 mencapai 0,21% secara bulanan. Tekanan terbesar datang dari komponen harga bergejolak yang mengalami inflasi sebesar 0,88%, memberikan andil sebesar 0,15% terhadap inflasi bulanan. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh sejumlah komoditas pangan, di mana daging ayam ras, cabai rawit, dan beras menjadi beberapa komoditas yang dominan mendorong inflasi pada bulan tersebut.

Di tengah tren kenaikan harga pangan ini, BPS juga mencatat bahwa produksi komoditas hortikultura secara keseluruhan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Salah satu komoditas yang mengalami penurunan produksi adalah cabai rawit di sejumlah daerah sentra produksinya.