— Harga emas dunia dilaporkan anjlok ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Senin, 14 September 2026. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dan data inflasi Amerika Serikat yang melampaui perkiraan, memperkuat spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Dalam perdagangan pasar spot, harga emas tercatat jatuh sebesar 1,15% dan ditutup pada US$ 4.298,8 per ons troi. Angka ini merupakan yang terendah sejak 7 Agustus 2026. Sementara itu, harga berjangka emas AS juga mengalami penurunan signifikan, ambles 1,56% menjadi US$ 4.339,95 per ons troi.

Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa kenaikan tajam harga minyak mentah berkontribusi pada peningkatan ekspektasi inflasi. Hal ini secara langsung meningkatkan kemungkinan bank sentral utama dunia untuk memperketat kebijakan moneter.

“Dengan harga minyak mentah yang melonjak tajam hari ini, ekspektasi inflasi meningkat. Ini mengindikasikan bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, yang menjadi sentimen negatif bagi logam mulia,” ujar Wyckoff, seperti dikutip Reuters, Senin (14/9/2026).

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dirilis Jumat, 11 September 2026, menunjukkan tekanan harga yang lebih besar dari yang diperkirakan. CPI AS naik 0,4% pada Agustus, melampaui kenaikan 0,1% pada Juli, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Jajak pendapat Reuters yang melibatkan para ekonom menunjukkan bahwa mayoritas memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Rabu, 16 September 2026, dan berlanjut dengan setidaknya satu kenaikan lagi hingga akhir Maret 2027. Perkiraan ini membalikkan konsensus sebelumnya yang cenderung memprediksi suku bunga tidak akan berubah.

Pelaku pasar, berdasarkan CME FedWatch Tool, bahkan memperhitungkan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pekan ini. Kenaikan suku bunga umumnya menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi justru meningkatkan daya tarik aset berbunga.

Kenaikan Harga Energi Memperburuk Situasi

Tekanan terhadap harga emas juga diperparah oleh kenaikan harga energi yang signifikan. Bank Sentral Jepang juga diperkirakan akan mengikuti langkah serupa dengan menaikkan suku bunga pada Jumat, 18 September 2026, di tengah kenaikan harga energi dan ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah.

Harga minyak dunia sempat melonjak sekitar 4% pada Senin, menyusul serangan baru terhadap infrastruktur energi dan sipil di Arab Saudi, serta serangan Iran terhadap beberapa kapal di Teluk. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan semakin meningkat setelah penutupan jalur pipa minyak utama Arab Saudi.

Di sisi lain, upaya diplomasi di Timur Tengah menghadapi hambatan setelah pertemuan antara Iran dan sejumlah negara Teluk ditunda. Kenaikan harga energi ini semakin memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat dari bank sentral.

Faktor lain yang menekan emas adalah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Penguatan dolar membuat emas, yang dihargai dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Di pasar logam mulia lainnya, perak spot anjlok 1,96% menjadi US$ 63,24 per ons. Platinum terpangkas 1,84% menjadi US$ 1.765,45 per ons, sementara paladium ambles 1,17% menjadi US$ 1.286,55 per ons.