— Harga emas dunia diprediksi masih akan terus tertekan dan berpotensi melanjutkan tren penurunannya hingga mencapai level US$ 4.100 per ons troi. Sejumlah faktor makroekonomi menjadi biang kerok utamanya, termasuk kenaikan harga minyak mentah, peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta prospek kebijakan suku bunga dari The Federal Reserve (The Fed).

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat melemah 0,25% ke posisi US$ 4.288,51 per ons troi. Posisi ini melanjutkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, di mana harga emas di pasar spot sempat ditutup jatuh 1,15% menjadi US$ 4.298,8 per ons troi pada Senin (14/9/2026), bahkan menyentuh level terendah sejak 7 Agustus 2026.

Market Analyst StoneX, Fawad Razaqzada, menjelaskan bahwa tekanan terhadap emas belum mereda karena kondisi makroekonomi saat ini cenderung negatif bagi logam mulia dan aset berisiko lainnya. “Kenaikan harga minyak terus memberikan tekanan pada obligasi pemerintah, sehingga imbal hasilnya meningkat. Kenaikan imbal hasil tersebut pada akhirnya meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan bunga seperti emas,” ujar Razaqzada dalam analisisnya, Selasa (15/9/2026).

Ia menambahkan, emas juga masih dibebani oleh biaya penyimpanan dan asuransi. Dalam kondisi seperti ini, emas dan bitcoin, yang kerap dianggap sebagai alternatif terhadap mata uang fiat, berpotensi tetap berada di bawah tekanan, terutama saat pasar sedang diliputi ketidakpastian.

Tekanan ini diperkirakan akan berlanjut hingga narasi pelemahan nilai dolar AS atau ‘dollar debasement’ kembali menjadi perhatian pasar, atau hingga dolar AS mengalami pelemahan yang signifikan.

Dari sisi teknikal, Razaqzada menilai momentum pergerakan harga emas juga turut memperburuk prospeknya. Harga emas telah mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut, mengindikasikan bahwa momentum penguatan yang sempat terjadi pada Agustus mulai kehilangan kekuatannya.

Setelah sempat anjlok pasca rilis data inflasi konsumen AS pada Jumat, harga emas sempat rebound tajam dari level terendahnya sebelum kembali melemah menjelang penutupan. Menurut Razaqzada, pola pergerakan ini mengindikasikan adanya aksi ‘jual saat berita’ (sell on news) yang membuat sebagian investor yang membeli saat harga turun kembali terjebak.

Kini, pasar menghadapi risiko aksi likuidasi yang lebih besar, terutama bagi investor yang telah membeli emas saat harganya turun ke kisaran US$ 4.000 per ons troi pada bulan Agustus.

Razaqzada menegaskan bahwa level US$ 4.400 per ons troi masih menjadi level resistensi penting yang telah berulang kali menahan upaya emas untuk bergerak lebih tinggi. “Selama batas tersebut belum ditembus secara meyakinkan, penjual masih memegang kendali,” jelasnya.

Analisis Teknikal Emas dan Proyeksi ke Depan

Dengan kondisi yang ada, Razaqzada memproyeksikan harga emas berpeluang kembali menguji level US$ 4.100 per ons troi, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada Rabu. Jika level US$ 4.100 per ons troi ditembus secara berkelanjutan, perhatian pasar selanjutnya akan beralih ke level US$ 4.000 per ons troi, dan kemudian ke level terendah Juni di kisaran US$ 3.942 per ons troi.

Sebaliknya, apabila narasi pelemahan dolar kembali menguat dan emas berhasil menembus level US$ 4.400 per ons troi secara meyakinkan, target penguatan berikutnya berada di US$ 4.500 per ons troi. Setelah itu, rata-rata pergerakan 200 hari (MA200) di sekitar US$ 4.538 per ons troi akan menjadi resistensi berikutnya, diikuti oleh level US$ 4.600 per ons troi.

Selain faktor teknikal, keputusan The Fed menjadi ujian penting berikutnya bagi pergerakan harga emas. Razaqzada menilai sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dapat kembali menekan emas sekaligus menopang penguatan dolar AS.

Data inflasi terbaru dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang mengingatkan bahwa inflasi dapat bertahan di atas target lebih lama, telah memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu. Namun, bagi pasar emas, yang lebih krusial bukanlah sekadar keputusan kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan arah kebijakan moneter The Fed setelahnya.

“Kenaikan suku bunga yang jelas hanya dilakukan sekali akan memberikan dampak yang sangat berbeda terhadap emas dibandingkan dimulainya kembali siklus pengetatan kebijakan moneter,” kata Razaqzada.

Razaqzada menekankan bahwa lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor paling jelas yang menekan emas, selain pergerakan pasar saham dan valuta asing. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun bahkan sempat mendekati 5% pada pekan lalu. Kondisi ini meningkatkan biaya pendanaan dan membuat aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.

“Kombinasi ini tidak ideal bagi emas. Kenaikan imbal hasil riil meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, sementara dolar yang lebih kuat akibat kenaikan harga energi menghilangkan sumber dukungan lainnya,” jelas Razaqzada.

Dengan demikian, sebagian besar faktor makroekonomi dan indikator teknikal masih mengarah negatif bagi prospek emas dalam jangka pendek. Kenaikan harga minyak, peningkatan imbal hasil obligasi, kekhawatiran inflasi, serta penguatan dolar AS yang mulai kembali menjadi penekan utama bagi logam mulia.

Menurut Razaqzada, kecuali narasi pelemahan nilai dolar kembali menguat secara signifikan, arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih cenderung mengalami penurunan. Keputusan The Fed pada Rabu akan menjadi penentu krusial apakah tekanan tersebut akan berlanjut menjadi penurunan lebih lanjut atau justru memunculkan katalis untuk membalikkan tren harga emas.