DailyFX.ID — Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dinamis pada perdagangan pekan ini. Berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak mentah, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), hingga arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), berpotensi memicu volatilitas.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kombinasi faktor global ini membuat pergerakan harga emas patut dicermati, terutama setelah pasar merespons perubahan arah kebijakan The Fed. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu (18/9/2026), harga emas dunia tercatat menguat 0,84% ke level US$ 4.378,23 per ons troi.
Ibrahim memproyeksikan, emas dunia memiliki ruang pergerakan yang cukup lebar pada pekan ini. Jika mengalami koreksi, support pertama diperkirakan berada di level US$4.333 per ons troi, dengan potensi pengujian support berikutnya di US$4.250 per ons troi jika tekanan berlanjut. Sebaliknya, jika kembali menguat, resistance pertama diprediksi di US$4.429 per ons troi, dengan potensi penguatan lebih lanjut menuju US$4.533 per ons troi. “Dengan demikian, harga emas dunia diperkirakan bergerak pada kisaran US$4.250-US$4.533 per ons troi pada pekan ini,” tegasnya.
Faktor geopolitik menjadi salah satu pemicu utama yang perlu dicermati. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik yang melibatkan AS, Iran, Yaman, dan Arab Saudi, dinilai masih tinggi. Perkembangan di kawasan ini juga berdampak pada harga minyak mentah dunia yang diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 90,3-102,5 per barel pada pekan ini. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Selain Timur Tengah, konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi sumber ketidakpastian geopolitik yang berpotensi menjaga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati langkah The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.
Di sisi lain, muncul dorongan agar The Fed kembali menurunkan suku bunga pada periode berikutnya. “Perbedaan ekspektasi mengenai arah kebijakan moneter tersebut berpotensi membuat pasar kembali bergejolak. Kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi biasanya memberikan tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga,” papar Ibrahim.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang diperhatikan, dengan indeks dolar AS diperkirakan memiliki support di level 99,40 dan resistance di 101,20.
Ikuti DailyFX.ID
