— Harga emas dunia mulai menunjukkan pergerakan positif dalam perdagangan Selasa (22/9/2026). Namun, penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury masih menjadi dua faktor utama yang membatasi laju penguatan logam mulia tersebut.

Harga emas spot tercatat ditutup menguat 0,34% ke level US$ 4.358,58 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS meningkat 0,28% menjadi US$ 4.396,2 per ons troi.

Menurut laporan Kitco, kenaikan harga emas terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak. Kondisi ini meredakan tekanan inflasi jangka pendek yang sebelumnya dipicu oleh risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Meskipun demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) pasca kenaikan suku bunga pada September.

Perdebatan di pasar kini berpusat pada apakah kenaikan suku bunga The Fed pada September merupakan penyesuaian satu kali atau awal dari fase pengetatan kebijakan moneter yang baru. Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober sempat mencapai sekitar 53,1% berdasarkan data harga futures.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bergerak di sekitar 100,48. Pada saat yang sama, yield obligasi AS tenor 10 tahun bertahan di level 5%. Dolar AS yang kuat dan yield obligasi yang tinggi memberikan tekanan bagi emas. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield aset berbasis dolar meningkat, daya tarik emas cenderung berkurang.

Di sisi lain, tekanan inflasi dari sektor energi mulai mereda. Hal ini terjadi setelah risiko gangguan pasokan minyak di kawasan Teluk berkurang. Iran telah memberikan sinyal bahwa mereka dapat membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan jika AS mencabut tekanan dan blokade terhadap pelabuhan negara itu.

Arab Saudi juga dilaporkan bergerak memulihkan ekspor melalui East-West Pipeline dan pelabuhan Yanbu. Perkembangan ini sempat membuat harga minyak Brent turun di bawah US$ 98 per barel sebelum akhirnya menetap di sekitar US$ 99,25 per barel.

Penurunan harga minyak tersebut mengurangi tekanan inflasi jangka pendek yang sebelumnya menjadi salah satu faktor pendukung harga emas di tengah konflik. Namun, pasar tetap melihat bahwa penurunan harga minyak belum sepenuhnya menghilangkan persoalan inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed.

Rilis Data Ekonomi AS Menjadi Perhatian

Perhatian para investor selanjutnya akan tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Data tersebut mencakup Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur dan jasa September pada Rabu, klaim pengangguran mingguan pada Kamis, serta pesanan barang tahan lama Agustus dan sentimen konsumen final September pada Jumat.

Data ekonomi yang lebih kuat atau komponen harga yang kembali meningkat dapat mempertahankan tekanan terhadap emas melalui penguatan yield obligasi dan dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat membuka ruang bagi emas untuk melanjutkan penguatan di atas US$ 4.300 per ons troi.

Secara teknikal, target kenaikan emas selanjutnya adalah menembus zona resistance di kisaran US$ 4.393,68 hingga US$ 4.400 per ons troi. Jika mampu menembus zona tersebut secara berkelanjutan, emas berpeluang menguji level US$ 4.480 dan kemudian US$ 4.500 per ons troi.

Sebaliknya, support terdekat berada di US$ 4.333,11. Jika level tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi membawa harga emas menuju US$ 4.300 dan selanjutnya ke kisaran US$ 4.160-US$ 4.180 per ons troi.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak melonjak 1,49% menjadi US$ 67,01 per ons, platinum melejit 1,72% menjadi US$ 1.835,5 per ons, sedangkan palladium terkerek 0,32% menjadi US$ 1.312,3 per ons.