— Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, bahkan menembus level terendah dalam sepekan terakhir. Sejumlah faktor seperti kenaikan harga minyak mentah, penguatan nilai dolar Amerika Serikat, serta pernyataan hawkish dari pejabat The Fed yang kembali memicu ekspektasi suku bunga tinggi, membayangi pasar logam mulia ini.

Harga emas spot tercatat ditutup turun 0,32% menjadi US$ 4.273,67 per ons troi. Level ini merupakan yang terendah sejak 16 September. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember juga melemah 0,19%, ditutup pada US$ 4.310 per ons troi.

“Emas terus terbebani oleh harga energi yang lebih tinggi serta suku bunga yang lebih tinggi. Dengan harga energi yang meningkat, ekspektasi terhadap kekhawatiran inflasi tumbuh dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi, yang kemudian dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter lebih ketat untuk menekan inflasi.

Kenaikan harga minyak mentah sekitar 2% pada hari yang sama dipicu oleh serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi yang kembali menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Kondisi ini secara umum dapat meningkatkan tekanan terhadap emas.

Tekanan terhadap emas semakin menguat setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pekan lalu. Bank sentral AS tersebut juga memberi sinyal akan ada kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Sejumlah pejabat The Fed kemudian memperkuat pandangan tersebut, termasuk Gubernur The Fed Michael Barr yang menekankan perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 69%. Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, dolar AS mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil (yield) obligasi AS 10 tahun juga bertahan di sekitar level tertinggi dalam hampir dua dekade, yang semakin meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas.

Dari sisi teknikal, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, Ole Hansen, menyoroti level US$ 4.235 per ons troi sebagai support penting yang perlu diperhatikan. “Penembusan level tersebut dapat membuka jalan bagi koreksi yang lebih dalam dan berpotensi mengembalikan perhatian pasar ke area US$ 4.000 per ons troi yang terbentuk pada Juni-Juli,” ujar Hansen dalam catatannya.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot jatuh 0,92% menjadi US$ 63,84 per ons, dan palladium terpangkas 0,24% menjadi US$ 1.265,25 per ons. Namun, platinum justru menguat tipis 0,08% menjadi US$ 1.755,1 per ons.