— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menunjukkan penguatan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026). Penguatan ini ditopang oleh kombinasi sentimen positif dari kancah global maupun domestik. Perkembangan positif dalam negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pelemahan indeks dolar AS, serta kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) menjadi katalis utama pergerakan rupiah.

Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah berhasil melonjak 66 poin atau setara dengan 0,37%, mencapai level Rp 17.818 per dolar AS. Posisi ini merupakan pembalikan dari penutupan hari sebelumnya, Selasa (22/9/2026), di mana rupiah tercatat melemah 37 poin (0,21%) ke level Rp 17.884 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau mengalami penguatan sebesar 0,2%, berada di level 100,8.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu sentimen kuat yang menopang penguatan rupiah berasal dari perkembangan hubungan antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyatakan bahwa pejabat AS telah menggelar pertemuan selama tiga jam dengan perwakilan Iran di New York.

“Trump menyebut pertemuan tersebut sangat baik dan produktif, sehingga memunculkan harapan negosiasi dapat membantu meredakan konflik dan gangguan di sekitar Selat Hormuz,” ungkap Ibrahim, Rabu (23/9/2026).

Pertemuan ini menandai kontak langsung pertama antara pejabat kedua negara sejak Juni. Iran sendiri mengisyaratkan kesediaan untuk membuka kembali Selat Hormuz jika Washington bersedia melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meskipun demikian, kepastian mengenai kesepakatan final masih belum tercapai.

Ibrahim menambahkan, sentimen positif lainnya turut datang dari Arab Saudi. Negara tersebut dikabarkan telah kembali mengoperasikan jalur pipa Timur-Barat. Jalur pipa ini memiliki kapasitas untuk mengalirkan minyak mentah ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa perlu melewati Selat Hormuz. Jalur pipa ini sebelumnya sempat ditutup setelah insiden serangan drone pada awal bulan ini.

Pasar Mencermati Kebijakan The Fed dan BI

Di sisi lain, Ibrahim mengemukakan bahwa pasar keuangan global masih terus mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin, menyatakan bahwa tekanan inflasi diperkirakan memerlukan waktu untuk mereda. Ia juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan guna membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Presiden The Fed Boston, Susan Collins, turut menegaskan pandangan serupa, bahwa tekanan harga yang tinggi saat ini memerlukan penerapan kebijakan yang lebih restriktif demi tercapainya stabilitas harga dalam jangka panjang.

Dari dalam negeri, Ibrahim menjelaskan bahwa Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan pada 22-23 September 2026. Tingkat suku bunga Deposit Facility tetap dijaga pada 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility berada di angka 6,50%.

BI menyatakan bahwa keputusan ini diambil dengan tujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi. Bank sentral juga berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan guna mendorong masuknya aliran modal asing serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing.

“Untuk perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp 17.810 hingga Rp 17.860 per dolar AS,” tutup Ibrahim.