— Nilai tukar rupiah (IDR) terpantau menguat pada awal perdagangan Rabu, 23 September 2026, berbalik arah setelah ditutup melemah pada hari sebelumnya. Penguatan ini terjadi meskipun dolar Amerika Serikat (USD) masih tertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Berdasarkan data pasar spot exchange pada Rabu pagi, rupiah dibuka menguat sebesar 40 poin atau 0,22% ke posisi Rp 17.844 per dolar AS. Pergerakan ini kontras dengan penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026) yang berakhir melemah 37 poin (0,21%) di level Rp 17.884 per dolar AS.

Penguatan rupiah di awal sesi perdagangan Rabu terjadi ketika investor global masih mencermati prospek kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral utama dunia serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama lainnya, bergerak stabil di level 100,56.

Analis memperkirakan dukungan terhadap dolar AS dari ekspektasi kenaikan suku bunga masih kuat. Namun, pasar berjangka saat ini sudah mengantisipasi pengetatan kebijakan moneter yang lebih besar dibandingkan proyeksi Federal Reserve (The Fed) sendiri. “Dolar kini membutuhkan data untuk mengonfirmasi ekspektasi tersebut,” ujar Kieran Williams, Head of Asia FX di Intouch Capital Markets, seperti dikutip Reuters.

Fokus pada Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah

Pasar juga memberikan perhatian pada penurunan harga minyak dari level tertingginya. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$ 99,22 per barel, didorong oleh harapan kemajuan diplomasi terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, lonjakan harga energi sempat memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga global.

Penurunan harga minyak dianggap sebagai kabar positif, namun arah pasar secara keseluruhan masih sulit diprediksi mengingat ketidakpastian penyelesaian konflik. Perkembangan konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing dan komoditas.

Terdapat sinyal positif dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran. Iran sendiri mengindikasikan kesiapan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam satu pekan jika tekanan militer AS berkurang dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut. Perkembangan ini berpotensi membaikkan pasokan energi jika ketegangan mereda.

Selain itu, pasar juga menantikan pertemuan antara Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas hubungan bilateral kedua negara yang masih diwarnai isu perdagangan dan ekonomi.

Di pasar Asia, yen Jepang bergerak di sekitar 157,55 per dolar AS. Pergerakan yen terus menjadi sorotan di tengah kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang. Pasar Jepang sendiri ditutup karena libur nasional pada Rabu, sehingga likuiditas perdagangan yen cenderung lebih rendah.

Pergerakan nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, pergerakan harga minyak, ekspektasi kebijakan The Fed, serta hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22-23 September 2026.