DailyFX.ID — JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan signifikan pada sesi I perdagangan Rabu, 23 September 2026. IHSG tercatat naik 40,42 poin atau 0,64% ke level 6.317. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentimen positif ini didorong oleh perkembangan terkini terkait konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta pergerakan bursa saham Asia.
Perkembangan positif ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya pertemuan yang sangat baik dengan utusan Iran. Di sisi lain, Iran memberikan sinyal positif dengan menyatakan kesediaan membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Selain itu, Arab Saudi juga berencana memulihkan ekspor minyak melalui jaringan pipa Timur-Barat dalam beberapa hari mendatang. Kondisi ini turut mendorong harga minyak dunia bergerak lebih rendah, memberikan sentimen positif bagi pasar saham.
Meskipun sentimen geopolitik memberikan angin segar, Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan investor untuk tetap mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS ini kembali menaikkan suku bunga, dan kekhawatiran mengenai inflasi masih membayangi. Presiden The Fed Richmond, Tom Barkin, memperingatkan bahwa guncangan inflasi dapat membutuhkan waktu untuk mereda dan risiko tekanan harga yang tinggi bisa semakin mengakar. Senada, Presiden The Fed Boston, Susan Collins, menyatakan dukungannya terhadap kenaikan suku bunga pada pekan lalu, didasari kekhawatiran inflasi yang dapat bertahan di atas target 2%.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed berikutnya pada Oktober mencapai sekitar 54%. Kondisi ini membuat investor tetap fokus pada arah kebijakan moneter AS.
Bank Indonesia Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang. Konsensus pasar memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Keputusan BI ini dianggap sebagai salah satu katalis penting bagi pasar, mengingat bank sentral harus mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan makroekonomi global.
Pelaku pasar juga akan mencermati pernyataan BI mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya serta langkah-langkah yang akan diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Di tengah peringatan International Monetary Fund (IMF) mengenai peningkatan utang global, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan fiskal yang relatif solid.
Proyeksi menunjukkan rasio utang luar negeri Indonesia diperkirakan berada di kisaran 29,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dan diproyeksikan turun menjadi 28,7% pada 2031. Stabilitas pembiayaan eksternal juga terpantau terjaga, dengan risiko pembiayaan kembali atau rollover risk jangka pendek yang relatif rendah karena struktur utang Indonesia didominasi oleh utang berjangka panjang.
Pada sesi I perdagangan Rabu (23/9/2026), beberapa saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain FORU, ZATA, UNSP, ACRO, dan SMLE. Sebaliknya, saham yang mengalami penurunan terbesar adalah DFAM, NASI, BPTR, AGAR, dan SNLK. Untuk perdagangan sesi II, Pilarmas merekomendasikan saham INDY dengan rekomendasi buy, menempatkan area support di level 2.600 dan resistance di 3.150.
Ikuti DailyFX.ID
