— Harga emas dunia menunjukkan potensi kenaikan pada perdagangan Senin (14/9/2026), setelah berhasil bertahan di zona support krusial. Geraldo Kofit, pakar dari Dupoin Futures, memprediksi harga logam mulia ini dapat menguji level resistance di kisaran US$ 4.388 hingga US$ 4.421 per ons troi.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat melemah 0,48% ke level US$ 4.329,68 per ons troi. Namun, Geraldo mengamati bahwa pada grafik empat jam (H4), harga emas tertahan di area US$ 4.302–4.325 per ons troi. Area ini kemudian membentuk swing low baru, yang membuka peluang pemulihan harga dalam jangka pendek.

“Bertahannya harga di area US$ 4.302–4.325 per ons troi menunjukkan adanya perlawanan terhadap tekanan jual yang sebelumnya menekan pergerakan emas,” jelas Geraldo dalam risetnya, Senin (14/9/2026).

Ia menambahkan, terbentuknya swing low baru juga mengindikasikan bahwa pembeli (buyer) mulai kembali mengambil posisi di sekitar area support. Kondisi ini memberikan ruang bagi harga emas untuk bergerak menuju level resistance terdekat.

Secara teknikal, harga emas pada grafik H4 juga membentuk pola Falling Wedge. Pola ini, yang ditandai dengan pergerakan harga menurun dalam struktur yang semakin menyempit, berpotensi menjadi sinyal pembalikan arah ketika harga mampu menembus batas atas pola dengan momentum yang kuat.

Dalam skenario rebound, Geraldo menekankan bahwa US$ 4.388 per ons troi menjadi resistance pertama yang perlu dicermati. Jika level ini berhasil ditembus, harga emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju US$ 4.421 per ons troi.

Sebaliknya, jika harga emas kembali tertekan hingga menembus support di US$ 4.302–4.325 per ons troi, skenario rebound berisiko kehilangan momentum. Penembusan zona tersebut dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih dominan dan membuka ruang penurunan lebih lanjut.

“Karena itu, respons harga emas di sekitar area support menjadi salah satu penentu arah perdagangan emas hari ini,” tegasnya.

Sentimen Fundamental Emas

Dari sisi fundamental, Geraldo memaparkan bahwa emas masih menghadapi tekanan akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang relatif tinggi. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Inflasi yang tinggi dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi ini berpotensi menopang dolar AS dan meningkatkan imbal hasil (yield) obligasi AS.

Kenaikan yield obligasi menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Ketika yield obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut bertambah, sehingga daya tarik harga emas dapat berkurang.

Selain yield, pergerakan dolar AS juga menjadi faktor penting. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas karena membuat logam mulia lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Sebaliknya, pelemahan dolar dapat membuka ruang bagi harga emas untuk menguat.

Di tengah tekanan tersebut, risiko geopolitik masih berpotensi memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset safe haven. Eskalasi konflik di Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan terhadap logam mulia ketika investor menghadapi ketidakpastian.

Namun, kenaikan harga minyak hingga di atas US$ 100 per barel memiliki efek ganda. Lonjakan harga minyak mencerminkan meningkatnya risiko geopolitik sehingga dapat mendukung permintaan safe haven. Di sisi lain, biaya energi yang lebih tinggi berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga The Fed bertahan tinggi lebih lama.

Dengan demikian, Geraldo menegaskan bahwa harga emas berada dalam tarik-menarik antara sinyal teknikal dan fundamental. Dari sisi teknikal, support US$ 4.302–4.325 per ons troi mampu menahan tekanan jual, sementara pola Falling Wedge membuka peluang rebound.

Geraldo menyarankan pelaku pasar untuk mencermati kemampuan harga emas mempertahankan area support tersebut sekaligus menembus resistance US$ 4.388 per ons troi. Jika berhasil dilewati, target berikutnya berada di US$ 4.421 per ons troi. “Sebaliknya, penembusan support US$ 4.302–4.325 per ons troi akan menjadi peringatan bahwa tekanan jual masih kuat,” tutupnya.