DailyFX.ID — Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa, tertekan oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade. Kenaikan harga energi, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, turut memperkuat kekhawatiran inflasi dan memberikan tekanan tambahan pada emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas ditutup ambles 1,86% menjadi US$ 4.334,57 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 ditutup melemah 1,89% menjadi US$ 4.388,95 per ons troi.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi menjadi hambatan utama bagi harga emas. “Peningkatan kemiringan kurva imbal hasil menjadi hambatan bagi emas, sementara penguatan harga minyak juga menjadi faktor yang menekan harga emas hari ini,” ujarnya.
Meskipun demikian, Grant melihat prospek emas dalam jangka menengah dan panjang tetap positif. Menurutnya, koreksi saat ini bisa jadi merupakan bagian dari fase konsolidasi sebelum minat beli kembali meningkat. “Kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan lebih lanjut, meski pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi sebelum minat beli kembali muncul,” kata Grant.
Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di Jepang dan Jerman. Yield obligasi jangka panjang di ketiga negara tersebut mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil. Di sisi lain, harga minyak mentah masih berada di zona positif untuk sesi perdagangan ketiga berturut-turut.
Harga energi yang lebih tinggi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dapat memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam tekanan harga. Padahal, sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda pelemahan, termasuk penurunan lapangan kerja yang tidak terduga, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta lemahnya penjualan ritel pada Juli 2026.
Pasar Menanti Risalah The Fed
Pelaku pasar kini menantikan risalah pertemuan kebijakan moneter terbaru The Fed yang akan dirilis Rabu (19/8/2026). Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya. Perubahan ekspektasi suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan permintaan terhadap emas, sedangkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter biasanya memberikan dukungan bagi logam mulia.
Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi perhatian pasar. Prospek tercapainya kesepakatan damai kembali terhambat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran kemungkinan tidak akan menerima persyaratan yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik. Iran juga menyatakan akan mempertahankan sikap militer yang ‘sepenuhnya ofensif’ dan mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Washington memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara.
Bank of America menilai permintaan investasi terhadap emas saat ini belum cukup kuat untuk mendorong harga menuju US$ 5.000 per ons troi. Dalam catatannya, analis Bank of America mengatakan pola pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas di sekitar US$ 4.000 per ons troi dibandingkan US$ 5.000 per ons troi. Untuk mencapai level US$ 5.000, pertumbuhan permintaan investasi diperkirakan perlu mencapai 21% secara tahunan. Dengan demikian, investor perlu meningkatkan pembelian secara signifikan agar harga emas memiliki ruang untuk bergerak menuju US$ 5.000 per ons troi.
Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot ambrol 3,72% menjadi US$ 63,33 per ons. Harga platinum anjlok 3,19% menjadi US$ 1.716,65 per ons, sedangkan palladium jatuh 2,96% menjadi US$ 1.289,45 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
