DailyFX.ID — Harga emas diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatannya dalam beberapa tahun mendatang, meskipun sempat mengalami penurunan di bawah level US$ 4.300 per troy ounce. Sejumlah bank investasi terkemuka dunia, termasuk UBS dan Goldman Sachs, memberikan pandangan optimis terhadap prospek logam mulia ini.
UBS, bank investasi asal Swiss, memperkirakan bahwa meskipun keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih dapat memengaruhi pergerakan harga emas, prospeknya tetap positif. UBS memproyeksikan harga emas berpeluang naik ke level US$ 4.600 per troy ounce pada Desember 2026. Proyeksi ini diperkirakan berlanjut dengan reli ke US$ 5.000 per troy ounce pada Maret 2027, dan mencapai US$ 5.200 per troy ounce pada Juni 2027.
Sementara itu, analis di Goldman Sachs memprediksi hambatan dari kebijakan The Fed akan mereda. Ekonom mereka memperkirakan tren inflasi yang lebih rendah akan mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun ini. Goldman Sachs membeberkan faktor-faktor jangka menengah yang dapat mendorong harga emas mencapai perkiraan mereka di level US$ 4.900 untuk tahun 2026.
Para analis Goldman Sachs menyatakan, “Porsi emas dalam portofolio swasta masih rendah, dan perkembangan geopolitik terkini, termasuk situasi di Iran dan ketegangan yang lebih luas dapat mempercepat diversifikasi investasi emas dari bank sentral ke investor swasta, termasuk dengan memengaruhi persepsi mengenai keberlanjutan fiskal negara-negara Barat.”
Anthony Kim, Kepala Global Perdagangan Logam di Goldman Sachs, menambahkan, “Menurut pandangan kami, ini bukanlah akhir dari pasar bullish (harga emas). Ini hanyalah jeda yang berkepanjangan.” Ia yakin bahwa tren bullish pada akhirnya akan berlanjut dan harga emas akan kembali mencetak rekor tertinggi di masa mendatang.
Bank investasi asal Kanada, RBC Capital Markets, juga memprediksi harga emas berpeluang mendekati US$ 5.000 per troy ounce pada tahun 2026. Para ahli di RBC Capital Markets memperkirakan harga emas akan berada di kisaran US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per troy ounce selama sisa tahun ini.
Menurut Christopher Louney, ahli komoditas di RBC Capital Markets, faktor-faktor fundamental yang menggerakkan harga emas masih sangat kuat. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian pasar yang terus berlanjut, dipicu oleh perang dagang, ketegangan geopolitik, hingga lonjakan utang negara-negara besar ekonomi, mendorong investor untuk mengalokasikan dana mereka ke emas.
Kinerja emas yang memiliki korelasi rendah terhadap kelas aset lainnya semakin memantapkan posisinya sebagai komponen strategis dalam pengelolaan aset profesional, menurut RBC. Untuk paruh kedua tahun 2026, para analis RBC cenderung mengarah pada batas atas kisaran perkiraan harga emas. Dalam skenario optimistis, RBC Capital Markets memproyeksi harga emas dapat mencapai level US$ 4.929 per troy ounce pada akhir tahun 2026.
Lebih lanjut, proyeksi RBC untuk tahun 2027 menunjukkan harga emas bisa mencapai puncak di angka US$ 5.296 per troy ounce. Salah satu pendukung utama proyeksi ini adalah minat beli emas yang kuat dari bank sentral global. Pembelian emas dalam jumlah besar yang terus dilakukan oleh bank sentral menjadi fondasi permintaan logam mulia tersebut, sehingga kenaikan harga bisa berlanjut.
Ikuti DailyFX.ID
