DailyFX.ID — Harga emas dunia ditutup melesat ke level tertinggi dalam sembilan minggu pada perdagangan Senin (10/8/2026). Momentum pembelian yang kuat dan fenomena fear of missing out (FOMO) mendorong kenaikan ini. Investor kini menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Harga emas spot ditutup melonjak 1,11% menjadi US$ 4.390,26 per ons troi, menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni 2026. Kenaikan ini melanjutkan reli 2,4% pada Jumat (7/8/2026), setelah data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penurunan tidak terduga pada nonfarm payrolls. Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 1,11% dan ditutup pada US$ 4.448,45 per ons troi.
“Momentum teknikal emas saat ini cukup kuat secara keseluruhan,” kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist StoneX. Menurut Haberkorn, pasar masih bergerak hati-hati menjelang rilis data inflasi AS. Pembelian emas oleh China serta kekhawatiran tertinggal dari reli turut mendorong harga emas, terutama dengan ekspektasi harga kembali menembus US$ 4.500 per ons troi.
Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada data indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu (12/8/2026), disusul data indeks harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8/2026). Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi CPI AS pada Juli mencapai 3,4% secara tahunan, sedikit melandai dari 3,5% pada Juni.
“Data CPI akan menjadi penting. Inflasi mulai sedikit mendingin dan pasar memperkirakan laporan yang tidak menunjukkan tekanan inflasi terlalu tinggi. Kondisi ini dapat membuat emas bergerak sideways hingga lebih tinggi dalam jangka pendek,” kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Peluang The Fed
Data inflasi menjadi krusial karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 52% pada September dan 81% pada Desember. Emas umumnya kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Selain ekspektasi kebijakan moneter AS, permintaan dari China turut menopang harga emas. Bank sentral China meningkatkan pembelian emas pada Juli dengan menambah cadangan dalam jumlah terbesar sejak Oktober 2023.
Pergerakan emas juga dibayangi perkembangan geopolitik. Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Namun, Iran menegaskan AS masih harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum jalur strategis tersebut dibuka kembali.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot meroket 3,38% menjadi US$ 65,72 per ons. Platinum naik 0,43% menjadi US$ 1.756,8 per ons, sedangkan palladium menguat tipis 0,03% menjadi US$ 1.382,8 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
