DailyFX.ID — Harga emas global mencatatkan lonjakan signifikan lebih dari 17% sejak pertengahan Juli 2026. Para pelaku pasar menilai gelombang kenaikan terbaru ini utamanya didorong oleh maraknya tren debasement trade, yaitu strategi investor melindungi nilai kekayaan dari dampak jangka panjang pembengkakan utang pemerintah serta suntikan likuiditas pasar.
Salah satu pemicu utamanya adalah peningkatan intervensi di pasar obligasi AS, mengutip laporan CNBC internasional pada Selasa (25/8/2026). Departemen Keuangan AS mengintensifkan aksi pembelian kembali (buyback) obligasi untuk menyokong likuiditas. Langkah ini menekan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di saat bersamaan, pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait strategi fiskal jangka panjang memicu kekhawatiran publik atas kesinambungan anggaran, terlebih saat utang nasional AS mendekati angka fantastis US$ 40 triliun. Selain faktor fiskal, eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah yang bertahan di atas US$ 93 per barel makin memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset aman (safe-haven). Kenaikan ini juga didukung oleh pelemahan indeks dolar AS ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Di sisi lain, aksi pemborongan emas oleh bank-bank sentral dunia untuk diversifikasi cadangan devisa masih menjadi pilar utama penyokong harga. Dari sektor investasi, produk ETF emas global mencatatkan arus masuk bersih (net inflows) sekitar US$ 3 miliar pada Juli 2026, mengakhiri tren penurunan sebelumnya dan berlanjut hingga Agustus 2026.
Kombinasi antara risiko fiskal, ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, serta penurunan yield obligasi diproyeksikan bakal terus menjaga tren penguatan harga emas dalam jangka pendek. Lonjakan harga emas sepanjang 2026 mencerminkan tingginya ketidakpastian dalam perekonomian global. Pembengkakan utang negara-negara maju dan kebijakan intervensi likuiditas telah memicu kekhawatiran atas penurunan daya beli mata uang fiat (debasement).
Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan serta lonjakan harga komoditas energi makin mendorong pelaku pasar, mulai dari investor ritel, institusi, hingga bank sentral untuk mengalihkan portofolio mereka ke aset bernilai stabil. Dalam situasi ini, emas kembali membuktikan perannya sebagai benteng utama terhadap risiko inflasi, volatilitas pasar, dan instabilitas ekonomi global.
Ikuti DailyFX.ID
