— WASHINGTON – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan ini dikeluarkan seiring berakhirnya masa berlaku Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani kedua negara pada Juni 2026 untuk meredam potensi konflik.

“Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump sebagaimana dikutip Bloomberg internasional, Rabu (19/8/2026).

Berakhirnya kesepakatan tersebut tanpa adanya rencana perpanjangan menempatkan status lalu lintas navigasi di Selat Hormuz, jalur perdagangan penting yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia, berada dalam ketidakpastian. Situasi ini pun langsung berdampak pada pasar energi global, di mana harga minyak mentah jenis Brent melonjak melewati angka US$ 91 per barel.

Eskalasi Militer dan Pemutusan Hubungan Bisnis

Eskalasi di kawasan makin memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian seluruh transaksi perdagangan, komersial, dan keuangan dengan Iran hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil menyusul klaim UEA bahwa Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke wilayah perairan mereka, meskipun tuduhan tersebut dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran.

Di sisi lain, negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali secara penuh sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmen awal mereka, yakni mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, membebaskan aset-aset keuangan Iran yang dibekukan, mencabut sanksi di sektor ekspor minyak, serta menghentikan seluruh operasi militer AS di kawasan.

Meskipun Trump mengklaim jalur pelayaran telah aman dan ranjau air telah dibersihkan, data navigasi maritim internasional menunjukkan arus lalu lintas kapal masih jauh di bawah tingkat normal akibat serangan terisolasi yang terus mengintai kapal-kapal komersial.

Perbedaan Pernyataan dan Tantangan Ekonomi

Pernyataan keras Trump sempat memicu simpang siur di internal Gedung Putih. Pasalnya, penasihat senior Jared Kushner sebelumnya sempat menyatakan, komunikasi dengan beberapa elemen pemerintahan Iran masih berlangsung secara aktif. Namun, Trump menegaskan opsi dialog telah tertutup.

Para pengamat menilai konflik ini telah bergeser menjadi perang ketahanan ekonomi (war of attrition). Pemerintah AS di bawah pimpinan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi, sementara pihak Iran menyatakan siap bertahan di tengah tekanan sanksi demi menjaga kedaulatan negara.

Konflik terbuka antara AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 ketika serangan udara terkoordinasi melanda sejumlah titik strategis di Iran. Pemerintah AS menyatakan langkah militer tersebut diambil guna mencegah Iran mengembangkan dan memperoleh senjata nuklir, tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh pihak Iran.

Selat Hormuz menjadi titik sentral dalam eskalasi ini karena posisinya sebagai alur laut utama (chokepoint) bagi distribusi minyak dan gas dunia. Ketegangan di selat ini kerap memicu krisis energi global karena ketergantungan pasar dunia pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Dinamika Diplomasi Regional

Dalam perkembangannya, diplomasi regional mengalami dinamika rumit. Iran dan Oman sempat menjalin komunikasi bilateral untuk mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, namun proses tersebut tidak melibatkan Amerika Serikat secara langsung. Latihan militer, blokade pelabuhan, serta gangguan navigasi di sepanjang jalur pelayaran telah mendorong lonjakan biaya logistik maritim, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, dan memicu inflasi di pasar global.

Di tengah situasi ini, banyak pihak memprediksi bahwa penyelesaian konflik membutuhkan kompromi diplomasi yang ketat agar tidak menyeret kawasan ke dalam krisis ekonomi dan keamanan yang lebih meluas.