DailyFX.ID — Harga emas mencatat kenaikan lebih dari 1% pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam hampir enam pekan. Penguatan ini ditopang oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan harga minyak mentah, sementara investor tetap mencermati keputusan terbaru dari bank sentral AS, The Fed.
Harga emas spot ditutup menguat 1,82% menjadi US$ 4.341,82 per ons troi. Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember justru tercatat melemah tipis 0,16% menjadi US$ 4.380,55 per ons troi.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa harga emas memiliki korelasi terbalik yang kuat dengan harga energi. Hal ini dikarenakan pengaruhnya terhadap tekanan inflasi. “Penurunan harga energi menghilangkan sebagian tekanan tersebut dari pasar emas,” kata Meger mengutip Reuters, Jumat (18/9/2026).
Harga minyak memang melanjutkan tren penurunannya untuk hari kedua berturut-turut, mencapai level terendah dalam sepekan. Penurunan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Sementara itu, dolar AS melemah dari posisi tertinggi dalam tujuh pekan. Pelemahan ini membuat emas, yang biasanya dihargai dalam dolar AS, menjadi lebih terjangkau bagi para pemegang mata uang lain.
Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami penurunan. Penurunan imbal hasil ini turut memberikan dukungan bagi emas, mengingat imbal hasil obligasi yang tinggi biasanya membuat aset berbunga lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
The Fed Masih Jadi Ancaman
Rebound harga emas terjadi sehari setelah The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya. Bank sentral AS tersebut juga mengisyaratkan kemungkinan adanya kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Keputusan kenaikan suku bunga tersebut diambil secara bulat, termasuk oleh Ketua The Fed saat itu, Kevin Warsh. Saat ini, investor memperkirakan peluang sebesar 51% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya pada pertemuan Oktober, meningkat dari sekitar 44% sehari sebelumnya, berdasarkan data CME FedWatch.
Lingkungan suku bunga yang tinggi cenderung memberikan tekanan pada harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga. Meskipun demikian, analis dari UBS menilai prospek emas masih mendapatkan dukungan dari sejumlah faktor jangka panjang.
“Defisit fiskal yang meningkat, beban utang yang lebih tinggi, potensi pelemahan dolar AS pada akhirnya, serta ekspektasi bahwa The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan moneter tahun depan seharusnya mendukung harga emas meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi,” tulis UBS dalam catatannya.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Harga perak spot melonjak 3,49% menjadi US$ 65,2 per ons. Platinum naik 0,96% menjadi US$ 1.772,43, sedangkan paladium menguat 0,61% menjadi US$ 1.283,556 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
