DailyFX.ID — Harga emas terpantau menguat tipis pada Jumat (18/9/2026) pagi, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya. Namun, penguatan ini belum cukup untuk mengukuhkan prospek bullish jangka panjang, mengingat harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor penekan.
Pada penulisan berita ini, harga emas spot tercatat menguat 0,05% ke level US$ 4.344,38 per ons troi. Pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026), emas spot ditutup naik 1,82% menjadi US$ 4.341,82 per ons troi.
Market Analyst StoneX, Fawad Razaqzada, menyatakan bahwa emas memang telah menunjukkan sinyal teknikal bullish setelah berhasil menembus pola falling wedge. Akan tetapi, dari sisi fundamental, kondisi emas masih dibayangi oleh faktor-faktor yang sebelumnya menekan harganya, terutama pergerakan harga minyak dan yield obligasi AS.
“Keduanya memang mereda hari ini, tetapi situasi di Timur Tengah masih jauh dari selesai. Harga minyak bisa dengan mudah kembali naik,” ujar Razaqzada dalam analisisnya.
Sebelumnya, pada Kamis, harga emas spot sempat melonjak lebih dari 2% dan mencapai US$ 4.360,36 per ons troi. Lonjakan ini didorong oleh penurunan harga minyak, pelemahan dolar AS, serta turunnya yield obligasi AS.
Keputusan The Fed yang bersikap hawkish pada Rabu (16/9/2026) dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sempat menekan pasar saham, mata uang, dan emas karena penguatan dolar AS serta kekhawatiran kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.
Namun, tekanan tersebut bersifat sementara. Emas dan aset berisiko lainnya kemudian berbalik menguat, bahkan kembali berada di atas level sebelum pengumuman The Fed.
Razaqzada berpendapat, ketahanan pasar ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar kemungkinan telah mengantisipasi sikap hawkish The Fed sebelum keputusan tersebut diumumkan.
Proyeksi para pejabat The Fed juga masih mengindikasikan adanya peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Sebanyak 12 dari 18 pejabat memperkirakan akan ada satu kenaikan lagi tahun ini, sementara empat pejabat memprediksi dua kali kenaikan. The Fed juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan dan inflasi, serta menurunkan proyeksi tingkat pengangguran.
Emas Tunggu US$ 4.400
Dari perspektif makroekonomi, Razaqzada menilai penurunan yield obligasi dan pelemahan dolar AS menjadi faktor positif bagi emas. Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi kembali memicu kekhawatiran inflasi.
“Jika harga minyak kembali naik, pasar dapat meningkatkan taruhan terhadap dua kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun. Kondisi tersebut akan menjadi lingkungan yang lebih sulit bagi emas untuk melanjutkan penguatan,” papar Razaqzada.
Secara teknikal, Razaqzada menjelaskan bahwa harga emas telah berhasil menembus pola falling wedge. Ia melihat pola ini memiliki kemiripan dengan pergerakan sebelum terjadi breakout pada awal Agustus. Namun, ia menekankan bahwa tren jangka panjang belum sepenuhnya berubah.
Sejak mencapai puncaknya pada Januari, harga emas masih membentuk rangkaian lower highs dan lower lows. Hal ini berarti sinyal bullish saat ini berpotensi menjadi false breakout, seperti yang terjadi pada awal September.
Razaqzada menetapkan level US$ 4.400 per ons troi sebagai resistance kunci. Menurutnya, jika level US$ 4.400 per ons troi berhasil ditembus, resistance berikutnya berada di kisaran US$ 4.500 per ons troi dan US$ 4.565 per ons troi.
“Sebaliknya, apabila emas kembali berbalik turun dan menembus support US$ 4.235 per ons troi, harga berpotensi melanjutkan pelemahan menuju US$ 4.100 per ons troi, sebelum mengarah ke US$ 4.000 per ons troi,” tutup Razaqzada.
Ikuti DailyFX.ID
