— Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) ditargetkan untuk mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, Indonesia melalui BMKS memiliki peluang signifikan untuk menjadi penentu harga nikel dan timah di pasar global, mengingat posisinya sebagai pemain utama di kedua komoditas tersebut.

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai produsen nikel terbesar di dunia dan nomor dua untuk timah setelah China. Negara ini juga memiliki cadangan resi gudang yang melimpah untuk kedua komoditas strategis ini.

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat komoditas dan mata uang, menyoroti bahwa belum adanya bursa timah dan nikel yang mapan di Asia memberikan peluang bagi BMKS untuk menonjol. Pengalaman Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) yang telah berhasil menetapkan harga timah sebagai referensi dunia menjadi bukti potensi tersebut.

“Saya optimistis BMKS bisa tentukan harga nikel dan timah. Sekarang tinggal apakah pimpinan BMKS mau turun bertemu dengan BBJ untuk membahas mekanisme penentuan harga,” ujar Ibrahim, dikutip Minggu (13/9/2026).

Mengenai komoditas lain, Ibrahim menyebutkan bahwa untuk minyak kelapa sawit mentah (CPO), sudah ada Bursa Malaysia Derivative Berhad yang likuid dan diakui secara internasional. Sementara itu, untuk batu bara, pusat perdagangan global terbesar berada di Newcastle, Australia, melalui Newcastle Coal Futures yang diperdagangkan di Intercontinental Exchange (ICE).

Ibrahim mengakui bahwa tantangan untuk menjadi penentu harga komoditas dunia sangatlah kompleks. Persiapan infrastruktur, penentuan produk yang akan ditransaksikan, serta penyediaan likuiditas yang memadai diperkirakan membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun.

“Artinya, kehadiran bursa fisik belum tentu menjadi refrensi harga, karena butuh waktu 10-15 tahun. Contohnya Bursa Derivative Malaysia yang membutuhkan waktu sepanjang itu agar harga CPO bursa itu diakui dunia dan menjadi referensi harga global,” jelasnya.

Proses serupa diperkirakan akan dialami oleh BMKS. Dengan demikian, harga komoditas versi BMKS baru berpotensi menjadi acuan dunia sekitar tahun 2037 atau 2042.