— Harga emas menunjukkan tren bullish yang kuat, melonjak hampir US$ 300 dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh sentimen positif dari pelaku pasar di Wall Street maupun investor ritel, yang sama-sama memperkirakan potensi penguatan harga logam mulia pada pekan mendatang. Prospek ini bahkan mengarah pada prediksi bahwa emas dapat menembus level US$ 4.500 per ons troi.

Reli emas terjadi setelah serangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang dirilis menunjukkan adanya pelemahan. Harga emas tercatat menembus US$ 4.300 per ons troi pada perdagangan Jumat (7/8/2026), menyusul laporan bahwa ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada bulan Juli. Angka ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 85.000 pekerjaan, sekaligus menjadi laporan kedua tahun ini yang mengindikasikan kontraksi pasar tenaga kerja AS.

Pelemahan pasar tenaga kerja tersebut secara signifikan mengurangi ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kini berada di bawah 50%, menurun dari posisi hampir 60% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai laporan ketenagakerjaan terbaru mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Menurutnya, situasi ini mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang secara otomatis menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga emas.

Sentimen bullish terhadap emas terlihat jelas dalam survei mingguan Kitco News. Dari 19 analis yang disurvei, sebanyak 16 analis atau 84% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan depan. Hanya dua analis atau 11% yang memprediksi harga akan turun, sementara satu analis atau 5% memilih sikap netral.

Sentimen serupa juga terpantau di kalangan investor ritel. Dalam jajak pendapat Kitco News yang melibatkan 241 responden, sebanyak 68,9% memperkirakan harga emas akan menguat pekan depan. Sebanyak 15,4% responden memprediksi harga emas akan turun, dan 15,8% lainnya bersikap netral.

Senior Market Analyst Barchart.com, Darin Newsom, menjelaskan bahwa emas masih berada dalam tren bullish, meskipun kenaikan berpotensi terbatas. Hal ini disebabkan oleh data inflasi AS yang akan dirilis pada pekan depan, yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar. Menurutnya, emas masih berpeluang bergerak dalam rentang yang lebih luas di bawah US$ 4.500 per ons troi, meskipun saat ini telah berhasil melampaui level support US$ 4.000 per ons troi.

Level Penting dan Hambatan Teknis

Chief Market Analyst FxPro, Alex Kuptsikevich, juga mengidentifikasi level US$ 4.500 per ons troi sebagai area penting bagi emas. Ia menekankan bahwa harga emas masih harus mengatasi sejumlah hambatan teknikal sebelum mencapai level tersebut. Moving average 50 pekan saat ini berada di kisaran US$ 4.400 per ons troi, sementara US$ 4.500 per ons troi merupakan area resistance krusial yang sebelumnya terbukti mampu membalikkan tren harga.

Kuptsikevich memperkirakan pertarungan antara para pembeli dan penjual akan semakin ketat pasca-rilisnya data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS pada pekan depan. Data-data ini akan menjadi penentu arah pergerakan harga emas selanjutnya.

Potensi Aksi Ambil Untung dan Ketergantungan Data Inflasi

Meskipun demikian, tidak semua analis memandang reli emas akan berlanjut tanpa hambatan berarti. Head of Research and Metals Strategy MKS PAMP, Nicky Shiels, mengingatkan bahwa kenaikan harga emas yang hampir mencapai 8% dalam sepekan terakhir membuat logam mulia ini berpotensi mengalami aksi ambil untung (profit-taking).

Menurut Shiels, data CPI AS harus menunjukkan pelemahan yang signifikan agar pasar semakin yakin bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun. Kondisi tersebut akan memberikan ruang yang lebih besar bagi emas untuk menguji dan berpotensi menembus level US$ 4.500 per ons troi.

Market Analyst FOREX.com, Fawad Razaqzada, juga memberikan catatan bahwa data tenaga kerja yang lemah belum tentu memberikan dampak jangka panjang terhadap emas. Masih ada dua laporan CPI dan satu laporan ketenagakerjaan lagi yang akan dirilis sebelum pertemuan The Fed berikutnya. Oleh karena itu, meski sentimen pasar saat ini sangat bullish, arah pergerakan emas pada pekan depan akan sangat ditentukan oleh data inflasi AS. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed dapat kembali membatasi ruang penguatan emas. Sebaliknya, apabila inflasi melandai dan tekanan terhadap pasar tenaga kerja terus berlanjut, peluang emas untuk menembus level US$ 4.500 per ons troi akan semakin terbuka lebar.