DailyFX.ID — Harga emas terpeleset di bawah level US$ 4.350 per ons troi dalam perdagangan Rabu (23/9/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang lebih dominan menekan sentimen pasar dibandingkan dengan penurunan harga minyak dunia.
Saat berita ditulis, harga emas tercatat melemah 0,32% menjadi US$ 4.344,76 per ons troi. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah pada Selasa (22/9/2026), Presiden Richmond Fed Tom Barkin mengingatkan bahwa guncangan inflasi mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mereda. Senada, Presiden Boston Fed Susan Collins menyatakan dukungannya terhadap kenaikan suku bunga pekan lalu karena kekhawatiran inflasi di masa depan masih di atas target 2%.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar bahwa suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) berpotensi bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Sinyal hawkish dari pejabat The Fed muncul pasca bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya pada pekan lalu. Saat ini, pasar sedang mencermati arah kebijakan moneter selanjutnya, terutama jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Di sisi lain, harga minyak dunia diketahui memperpanjang penurunannya untuk sesi keenam berturut-turut. Penurunan harga minyak ini seharusnya dapat membantu meredakan kekhawatiran terkait inflasi dan mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga.
China Menjadi Penopang Emas
Pe melemahan harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan pejabat AS telah mengadakan pertemuan ‘sangat baik’ dengan utusan Iran. Iran juga mengindikasikan kesiapannya untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Perkembangan ini memunculkan harapan meredanya potensi gangguan pasokan energi. Namun, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat harga emas. Pasar masih dibayangi oleh prospek suku bunga AS yang tinggi.
Di tengah tekanan dari kebijakan moneter AS, permintaan emas dari China justru menunjukkan kekuatan yang tetap terjaga. Impor emas China hingga Agustus 2026 telah menembus angka 1.000 ton, melampaui total impor sepanjang tahun 2025. Tingginya permintaan investasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong arus masuk emas ke pasar China.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar emas masih menghadapi dua sentimen yang saling berlawanan. Di satu sisi, prospek suku bunga AS yang lebih tinggi memberikan tekanan pada harga emas. Di sisi lain, permintaan fisik yang kuat, terutama dari China, bertindak sebagai penopang harga logam mulia tersebut.
Ikuti DailyFX.ID
