— Harga emas tidak mampu mempertahankan posisinya di atas US$ 4.400 per ons troi pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dirilis pekan ini, yang diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Dalam penutupan perdagangan, harga emas spot tercatat turun 0,5% menjadi US$ 4.368,15 per ons troi. Puncak tertinggi dicapai pada level US$ 4.434,84 per ons troi, yang merupakan angka tertinggi sejak 5 Juni.

Penguatan yang terjadi membawa harga emas mendekati rata-rata pergerakan 100 hari di angka US$ 4.387,92. Level ini dianggap sebagai salah satu penanda teknikal penting yang masih menjadi resistensi bagi emas untuk melanjutkan tren kenaikannya.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menunjukkan tren positif, ditutup naik sekitar 0,5% pada level US$ 4.441,10 per ons troi.

Wakil Presiden dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menyatakan bahwa pasar sedang menunggu data inflasi AS. Data ini diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai kondisi inflasi saat ini dan implikasinya terhadap prospek kebijakan moneter The Fed.

“Pasar menantikan data inflasi pekan ini untuk mendapatkan konfirmasi bahwa inflasi terkendali,” ujar Grant.

Data yang paling dinanti adalah indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu (12/8/2026), diikuti oleh indeks harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8). Kedua data ini diprediksi akan menjadi fokus utama perhatian pasar.

Rilis data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Hal ini terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis pada bulan Juli menunjukkan hasil yang lemah, menyebabkan pasar mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga pada September.

Kondisi tersebut sempat mendorong harga emas melonjak signifikan, mencapai 2,4% dalam satu hari. “Emas masih cukup diminati setelah kekecewaan terhadap data tenaga kerja pekan lalu mengikis ekspektasi kenaikan suku bunga pada September,” jelas Grant.

Meskipun demikian, pasar belum sepenuhnya mengabaikan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 50%, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 79%.

Presiden The Fed Bank of Cleveland, Beth Hammack, pada Senin (10/8/2026) mengungkapkan bahwa saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memulai kenaikan suku bunga secara bertahap. Tujuannya adalah untuk menghindari kebutuhan kenaikan yang lebih drastis di masa mendatang.

Penting untuk dicatat bahwa suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas. Hal ini disebabkan oleh sifat emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Di pasar komoditas lain, perak spot mengalami penurunan tajam sebesar 1,55%, ditutup pada US$ 64,7 per ons. Platinum juga terpantau jatuh 0,79% menjadi US$ 1.743 per ons, sementara palladium melemah 0,92% dengan penutupan di US$ 1.370,12 per ons.