— Emas memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari komoditas lain, mulai dari dinamika pasokan dan permintaan, manfaat diversifikasi, hingga ketahanannya dalam berbagai kondisi pasar. Karena itu, emas seharusnya diperlakukan sebagai alokasi portofolio tersendiri, bukan sekadar bagian dari investasi komoditas.

Hal tersebut disampaikan Jeremy De Pessemier, asset allocation strategist World Gold Council (WGC), dalam laporan Gold: The Most Effective Commodity Investment – 2026 Edition. Menurut De Pessemier, investor telah lama mengakui manfaat komoditas untuk diversifikasi portofolio, perlindungan terhadap inflasi, dan menjaga kinerja sepanjang siklus ekonomi. Namun, bobot emas dalam indeks komoditas secara luas dinilai belum mencerminkan peran strategisnya.

“Metodologi indeks biasanya mengandalkan likuiditas pasar berjangka dan/atau ukuran berbasis produksi. Keduanya tidak sepenuhnya menangkap struktur pasar emas,” tulis De Pessemier dikutip dari Kitco, Rabu (19/8/2026).

Berbeda dari komoditas lain, likuiditas emas tidak hanya berasal dari pasar berjangka, tetapi juga perdagangan over-the-counter (OTC) dan exchange-traded fund (ETF). Pasokan emas pun tidak terbatas pada produksi tambang tahunan karena terdapat stok emas yang sangat besar di atas permukaan tanah yang dapat didaur ulang dan diperdagangkan kembali.

De Pessemier menyebut emas sebagai aset multifungsi dengan sumber permintaan yang beragam. Emas digunakan sebagai instrumen investasi sekaligus barang konsumsi melalui permintaan perhiasan dan teknologi. Struktur permintaan tersebut membuat emas relatif lebih tahan terhadap siklus bisnis.

Empat Keunggulan Emas

De Pessemier menyoroti empat karakteristik utama yang membuat emas berbeda dari komoditas lain. Pertama, imbal hasil jangka panjang yang lebih baik. Secara historis, emas mencatat imbal hasil positif dalam kondisi ekonomi baik maupun buruk. Dalam periode 5, 10, dan 20 tahun, emas juga mengungguli indeks komoditas secara luas dan sebagian besar subindeks komoditas.

Sumber permintaan emas yang beragam turut membuat volatilitasnya lebih rendah dibandingkan komoditas lain. Kondisi tersebut dapat membantu meningkatkan stabilitas portofolio dan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko.

Kedua, kemampuan diversifikasi. Emas memiliki korelasi rendah atau bahkan nyaris tidak berkorelasi dengan banyak aset, termasuk komoditas. Korelasi tersebut juga bersifat dinamis.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi, emas cenderung memiliki korelasi positif dengan saham. Namun, ketika pasar masuk fase risk-off, korelasinya dengan saham biasanya menjadi negatif sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap risiko penurunan tajam. Sebagai contoh, saat aksi jual saham global pada kuartal IV 2018, indeks MSCI USA turun 14% dan komoditas anjlok 9%, sedangkan emas naik 8%. Pada aksi jual akibat pandemi Covid-19 pada kuartal I 2020, MSCI USA turun 20% dan komoditas merosot 23%, sementara emas mencatat kenaikan 6%.

Ketiga, perlindungan terhadap inflasi. Menurut De Pessemier, meskipun komoditas secara umum berkinerja baik saat inflasi tinggi, emas mampu memberikan kinerja yang lebih baik. Bahkan ketika inflasi rendah, emas masih mencatat imbal hasil nominal positif.

Keempat, likuiditas yang tinggi. Investor dapat mengakses emas melalui berbagai instrumen. Menurut WGC, nilai transaksi harian pasar emas global rata-rata mencapai US$373 miliar pada 2025. Besarnya pasar tersebut memungkinkan investor institusi melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa mengganggu likuiditas secara signifikan.

Emas Layak Jadi Alokasi Khusus

De Pessemier menilai porsi komoditas dalam portofolio investor umumnya kurang dari 10%, sementara porsi emas sering kali kurang dari 10% dari alokasi komoditas tersebut. Artinya, sebagian besar portofolio hanya memiliki eksposur emas kurang dari 1%.

Padahal, analisis WGC menunjukkan alokasi emas dalam dua dekade terakhir mampu meningkatkan imbal hasil absolut sekaligus menurunkan volatilitas portofolio dibandingkan portofolio tanpa emas maupun portofolio yang hanya memiliki eksposur komoditas.

Dalam berbagai kondisi ekonomi dan pasar, emas juga menunjukkan ketahanan yang lebih konsisten. WGC membagi kondisi makro menjadi empat fase, yakni QE-style goldilocks, Fear of the Fed, Recovery, dan Risk-off, berdasarkan arah yield obligasi dan spread korporasi.

Emas mencatat imbal hasil positif dalam seluruh rezim tersebut, dengan kinerja terbaik pada fase risk-off dan QE-style goldilocks. Sebaliknya, komoditas cenderung paling baik pada fase recovery dan berkinerja buruk saat resesi.

“Dinamika pasokan dan permintaannya yang unik, paparan terhadap biaya roll yang terbatas, manfaat diversifikasi, serta ketahanannya dalam berbagai kondisi pasar membuat emas berbeda dari kompleks komoditas secara luas,” ujar De Pessemier.

Karena itu, menurut dia, investor strategis sebaiknya mempertimbangkan emas sebagai alokasi portofolio tersendiri, yang melengkapi tetapi tidak dapat digantikan oleh eksposur terhadap komoditas secara luas.