— Gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8/2026) waktu setempat. Bencana ini dilaporkan merobohkan puluhan bangunan, menimbun warga di balik reruntuhan, dan menewaskan sedikitnya 22 orang.

Menurut otoritas setempat, guncangan kuat terjadi sekitar pukul 07.34 waktu lokal (12.34 GMT) dengan kedalaman 96 kilometer. Pusat gempa terdeteksi berada di dekat San Jose del Palmar, Provinsi Choco, sebuah wilayah pesisir Pasifik Kolombia.

Dampak terparah dilaporkan terjadi di Pereira, kota yang terletak di kawasan penghasil kopi Kolombia. Wali Kota Pereira, Mauricio Salazar, mengonfirmasi sebanyak 18 orang tewas di wilayahnya. Sementara itu, di Kota Manizales, Wali Kota Jorge Eduardo Rojas melaporkan tiga warganya meninggal dunia akibat gempa.

Satu korban jiwa lainnya tercatat di Buenaventura, kota pelabuhan utama Kolombia di Samudra Pasifik. Wali Kota Buenaventura, Ligia del Carmen Cordoba, menyatakan korban tewas tertimpa bangunan yang runtuh, yang juga menjebak beberapa warga lainnya.

Di Kota Cali, salah satu kota terbesar di Kolombia, kepanikan melanda setelah lebih dari 25 bangunan dilaporkan ambruk. “Saat ini, tim penyelamat telah berhasil menyelamatkan dua korban hidup dari reruntuhan, yaitu seorang lansia dan seorang anak perempuan. Namun, masih banyak warga yang terperangkap,” ujar Wali Kota Cali Alejandro Eder. Alejandro menambahkan, pihaknya telah merespons setidaknya 12 titik krisis dan meminta bantuan darurat dari tim bencana di Bogota serta Medellin.

Enam Bandara Ditutup dan Guncangan Terasa hingga Negara Tetangga

Dampak gempa juga melumpuhkan sektor transportasi udara. Otoritas Penerbangan Sipil Kolombia (Aerocivil) memutuskan untuk menutup enam bandara guna memeriksa kerusakan struktur bangunan dan landasan. Fasilitas udara yang ditutup meliputi bandara di Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura.

Badan Penanggulangan Bencana Kolombia mencatat gempa ini dirasakan di sembilan departemen serta seluruh 32 ibu kota departemen, yang memicu evakuasi massal. Meskipun sempat menimbulkan kekhawatiran di sepanjang pesisir Pasifik, Sistem Peringatan Tsunami Amerika Serikat memastikan tidak ada ancaman tsunami.

Guncangan gempa bahkan terasa hingga ke negara tetangga, Venezuela. Saksi mata di Negara Bagian Tachira dan Kota Barquisimeto melaporkan getaran kuat yang membuat warga berhamburan ke luar rumah.

Kolombia terletak di dalam kawasan Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), wilayah dengan aktivitas seismik dan vulkanik paling aktif di dunia. Secara geologis, wilayah Kolombia berada di titik temu kompleks antara tiga lempeng tektonik utama: Lempeng Nazca, Lempeng Karibia, dan Lempeng Amerika Selatan.

Subduksi Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan di sepanjang pesisir Pasifik menjadi pemicu utama sering terjadinya gempa bumi di negara tersebut. Kawasan barat Kolombia, khususnya Provinsi Choco dan wilayah penghasil kopi (Eje Cafetero), memiliki catatan sejarah gempa bumi mematikan. Salah satu bencana paling parah dalam sejarah modern Kolombia terjadi pada 1999, ketika gempa magnitudo 6,2 mengguncang Kota Armenia dan menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Gempa kali ini juga menambah rentetan bencana seismik di kawasan utara Amerika Selatan. Hanya dua bulan sebelumnya, pada Juni 2026, Venezuela dihantam dua gempa bumi kembar yang merusak kawasan pesisir dekat ibu kota Caracas dan menelan lebih dari 6.000 korban jiwa. Peristiwa beruntun ini mempertegas perlunya peningkatan mitigasi bencana dan penguatan standar bangunan tahan gempa di seluruh wilayah kawasan tersebut.