— Gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8/2026). Bencana ini merobohkan puluhan bangunan, menimbun warga di balik reruntuhan, serta menewaskan sedikitnya 73 jiwa. Getaran hebat bahkan terasa hingga ke ibu kota Bogota, Ekuador, dan Panama.

Pusat gempa berada di San Jose del Palmar, Provinsi Choco, dengan kedalaman 107 kilometer. Wilayah ini berpenduduk sekitar 4.800 jiwa dan berjarak 400 kilometer di sebelah barat Bogota. Gempa ini merupakan yang terkuat dalam satu dekade terakhir di Kolombia.

Lebih dari 20 kotamadya di seluruh negeri terdampak parah. Wilayah Risaralda melaporkan sedikitnya 40 korban tewas, termasuk di Kota Pereira yang mengalami kerusakan parah. Sebanyak 27 orang meninggal dunia di Wilayah Valle del Cauca, dengan tiga di antaranya adalah anak-anak. Empat korban tewas dikonfirmasi di Provinsi Choco dan dua orang di Kota Manizales.

Di Kota Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, Wali Kota Alejandro Eder menyatakan bahwa belasan warga masih terperangkap di sedikitnya 19 bangunan yang ambruk total. Seorang pengemudi taksi di Cali, Jorge Moncayo (64), menggambarkan guncangan hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, menyaksikan debu mengepul dari gedung-gedung yang runtuh.

Gempa utama diikuti oleh dua gempa susulan masing-masing berkekuatan Magnitudo 2,8 dan Magnitudo 4,8. Akibat kerusakan struktur, penerbangan di enam bandara utama dihentikan sementara. Di Pereira, atap terminal bandara runtuh dan menimpa penumpang. Di Manizales, salah satu menara katedral bergaya Neo-Gotik roboh.

Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, memimpin langsung penanganan tanggap darurat nasional. “Anda tidak sendirian. Negara hadir dan langsung mengambil tindakan,” tegasnya.

Dukungan internasional dan tawaran bantuan darurat mulai mengalir dari Meksiko, Brasil, Ekuador, El Salvador, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Wilayah pesisir Pasifik Kolombia terletak di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), jalur patahan seismik paling aktif di dunia. Kawasan ini menjadi titik subduksi Lempeng Nazca ke bawah Lempeng Amerika Selatan, yang kerap memicu gempa bumi.

Meskipun gempa kecil (temblores) sering terjadi, gempa skala besar di atas Magnitudo 6,0 relatif jarang namun berpotensi destruktif. Bencana serupa pernah melanda Kota Armenia pada 1999, ketika gempa Magnitudo 6,2 menewaskan lebih dari 1.100 orang.

Rentetan bencana seismik ini juga meningkatkan kekhawatiran, mengingat dua bulan sebelumnya, Venezuela dilanda dua gempa bumi beruntun yang merusak puluhan ribu bangunan dan menelan lebih dari 5.000 korban jiwa. Peristiwa ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan mitigasi bencana dan penguatan standar bangunan tahan gempa di kawasan Amerika Selatan.