— JAKARTA – Grup emiten Happy Hapsoro berambisi menjadi pemain energi terkemuka di Asia Tenggara dengan memperkuat lini bisnisnya dari sektor hulu hingga hilir minyak dan gas (migas). Langkah strategis ini ditempuh melalui serangkaian akuisisi aset yang masif.

Pada segmen hulu migas, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melalui anak usahanya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), telah menyusun peta jalan untuk menambah portofolio aset dalam dua hingga tiga tahun ke depan. RATU menargetkan untuk memfinalisasi satu akuisisi aset produktif yang dioperasikan oleh operator berpengalaman pada tahun 2027. Akuisisi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko eksplorasi dan segera meningkatkan kapabilitas finansial perusahaan.

Saat ini, RATU mengelola investasi di tiga blok migas. Pertama, perusahaan memiliki 2,24% hak partisipasi (PI) secara tidak langsung di Blok Cepu yang dioperasikan oleh ExxonMobil. Kedua, RATU memegang 8% hak partisipasi langsung di Blok Jabung, yang dioperasikan oleh PetroChina International Jabung. Ketiga, perusahaan memiliki 20% hak partisipasi tidak langsung di Blok Selat Madura, yang dioperasikan oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).

Selain itu, RATU juga telah menyelesaikan kesepakatan Farm-Out Agreement (FOA) dan Joint Operation Agreement (JOA) untuk mengambil alih 5% hak partisipasi di Blok Kasuri atau Wilayah Kerja Genting. “RATU memang ada rencana masuk ke Blok Genting,” ujar Direktur Utama PT Rukun Raharja Tbk Djauhar Maulidi dalam paparan publik, Kamis (11/9/2026).

Radar akuisisi RATU tidak hanya terbatas pada aset domestik yang tersebar dari Jawa hingga Papua. Perusahaan juga menjajaki aset di luar negeri, termasuk Malaysia, Amerika Serikat (AS), dan Turki. Tercatat, sebanyak 20 blok migas aktif telah masuk dalam daftar pantauan (watch list) perseroan. Jika rencana akuisisi ini berjalan lancar, RATU berpotensi bertransformasi menjadi operator hulu migas, bukan sekadar investor.

Terkait pendanaan akuisisi, Direktur Keuangan RATU, Adrian Hartadi, menyatakan bahwa perseroan memiliki batas covenant pinjaman bank sebesar 4 kali dan obligasi 5 kali. Hal ini memberikan ruang bagi RATU untuk menambah pendanaan selama tetap mematuhi ketentuan covenant tersebut. Di luar itu, RATU juga berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) dengan menerbitkan 271.505.380 saham baru, yang setara dengan 10% dari modal disetor. Dana hasil private placement akan dialokasikan untuk modal kerja dan pengembangan usaha perseroan serta grup.

RAJA Perkuat Segmen Midstream dan Hilir

Sementara itu, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) sebagai perusahaan induk juga menunjukkan agresivitas yang sama. Pada segmen midstream dan hilir migas, emiten yang terafiliasi dengan suami Puan Maharani ini merancang serangkaian akuisisi, mulai dari perusahaan gas alam cair hingga perusahaan pelayaran.

Terbaru, RAJA mengakuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas (PT LNG) untuk berinvestasi pada fasilitas Floating Liquified Natural Gas (FLNG) pertama di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Nilai transaksi akuisisi 5% saham PT LNG mencapai US$43,67 juta atau sekitar Rp768,92 miliar (dengan asumsi kurs Rp17.610 per US$), termasuk uang muka sebesar US$5 juta. Langkah ini bertujuan mengembangkan rantai pasok midstream dan downstream gas bumi.

RAJA memproyeksikan akuisisi 5% saham PT LNG akan memberikan manfaat sekitar US$38 juta pendapatan dan US$15 juta EBITDA per tahun. Selanjutnya, RAJA juga berencana mengakuisisi perusahaan pelayaran yang memiliki operasional berupa satu unit LNG Carrier (LNGC) dan satu unit Very Large Gas Carrier (VLGC). Kedua kapal tersebut memiliki kontrak hingga 2028 dan 2029, dengan target penyelesaian transaksi pada kuartal IV-2026.

Direktur PT Rukun Raharja Tbk, Praba Dwiangkara, yang merupakan anak kedua Happy Hapsoro, menjelaskan bahwa akuisisi perusahaan pelayaran ini bertujuan memperkuat bisnis midstream dengan memasuki rantai bisnis baru. “Kami mengetahui Indonesia merupakan negara kepulauan dan moda transportasi di antara banyak pulau membutuhkan kapal untuk mengangkut fuel,” ujarnya.

Dana yang dibutuhkan untuk eksekusi rencana akuisisi perusahaan pelayaran ini diperkirakan mencapai US$150 juta atau setara Rp2,64 triliun. Angka ini sudah mencakup nilai akuisisi 5% saham PT LNG dan pengembangan fasilitas FLNG. Sumber pendanaan akan berasal dari kombinasi kas internal dan eksternal.

Selain itu, RAJA melalui anak usahanya, PT Petrotech Penta Nusa, tengah membangun pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalimantan Timur yang ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal IV-2027. Proyek ini bertujuan memperkuat portofolio infrastruktur distribusi BBM.

Lebih lanjut, melalui anak usahanya, PT Karya Mineral Jaya, RAJA sedang memfinalisasi kajian proyek LNG Plant di Kalimantan. Keputusan Investasi Akhir (Final Investment Decision/FID) ditargetkan pada kuartal IV-2029 dengan estimasi nilai investasi awal US$300 juta. Terakhir, perseroan melalui anak usahanya, PT Panji Raya Alamindo, bersama Tokyo Gas sebagai mitra, akan membangun pabrik biogas berbasis limbah peternakan.

Praba menambahkan bahwa inisiatif pabrik biogas ini merupakan langkah RAJA dalam menjajaki energi baru terbarukan melalui pemanfaatan limbah peternakan. Saat ini, perseroan masih mengkaji kelayakan investasi, termasuk studi kualitas limbah, penjajakan lokasi di Jawa Barat, serta benchmarking dengan fasilitas serupa di Jepang dan India. Pabrik biogas ini ditargetkan beroperasi pada kuartal I-2028.

Seluruh proyek ini mencerminkan arah pertumbuhan RAJA dalam mengembangkan bisnis yang dikuasai, memperluas peran dalam rantai nilai energi, dan mempersiapkan pengembangan energi terbarukan. “Visi kami menjadi perusahaan energi terkemuka di Asia Tenggara,” tegas Praba.

Dari sisi dividen, RAJA berkomitmen membagikan dividen secara berkelanjutan sebagai cerminan arus kas grup yang kuat, sekaligus meningkatkan daya tarik saham RAJA sebagai pilihan investasi. RATU juga berkomitmen untuk selalu berusaha membayarkan dividen sebagai wujud apresiasi kepada para pemegang saham.