— Harga batu bara menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Senin (14/9/2026), didorong oleh peningkatan prospek permintaan global. Gejolak pasar energi yang dipicu konflik di Timur Tengah turut berkontribusi pada kenaikan ini.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 tercatat naik US$ 0,1 menjadi US$ 146,85 per ton. Kontrak Oktober 2026 mengalami peningkatan US$ 0,65 ke level US$ 148,55 per ton, sementara kontrak November 2026 menguat US$ 0,7 menjadi US$ 150,9 per ton.

Sementara itu, di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak September 2026 terkerek naik US$ 0,25 menjadi US$ 139,3 per ton. Kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,65 menjadi US$ 140,35 per ton, dan kontrak November 2026 terpantau menguat US$ 1,2 menjadi US$ 10,45 per ton.

Data dari Tradingview menunjukkan bahwa harga batu bara berhasil bertahan di atas US$145 per ton pada pertengahan September, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pada pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak dan gas alam melonjak.

Kondisi tersebut mendorong berbagai negara di Eropa dan Asia untuk meningkatkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik, terutama mengingat adanya penurunan pasokan gas alam cair (LNG).

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara global akan meningkat sebesar 1,2% pada tahun 2026, mencapai rekor 8,94 miliar ton. Proyeksi ini merupakan perubahan signifikan dari perkiraan sebelumnya yang mengindikasikan sedikit penurunan permintaan batu bara global.

Energi Menjadi Pemicu Utama

Meskipun Timur Tengah bukan merupakan kawasan produsen batu bara utama dan hampir tidak ada pengiriman komoditas ini yang melewati Selat Hormuz, konflik di kawasan tersebut tetap memberikan dampak signifikan terhadap pasar batu bara melalui lonjakan harga energi secara umum.

Kenaikan harga gas alam membuat batu bara menjadi sumber energi yang lebih kompetitif untuk pembangkit listrik. Akibatnya, sejumlah negara di Eropa dan Asia memutuskan untuk beralih menggunakan batu bara demi memenuhi kebutuhan energi mereka.

Lonjakan harga minyak juga turut mendorong China untuk meningkatkan konsumsi batu bara, khususnya untuk keperluan produksi bahan kimia.

Di sisi lain, pasokan batu bara global diperkirakan akan mengalami penurunan pada tahun 2026. IEA menyoroti perkembangan di China sebagai salah satu faktor utama. Setelah serangkaian inspeksi keselamatan tambang yang dilakukan menyusul kecelakaan besar pada bulan Mei, produksi batu bara di negara tersebut dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan.