DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melesat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Lonjakan ini didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan dari penerapan penuh kebijakan B50 biodiesel di Indonesia dan kekhawatiran pasokan akibat fenomena El Niño.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 naik 57 Ringgit Malaysia menjadi 4.791 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 menguat 62 ringgit Malaysia menjadi 4.934 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 terkerek 57 ringgit Malaysia menjadi 5.018 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 meningkat 52 ringgit Malaysia menjadi 5.077 ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak jangka lebih panjang, kontrak Januari 2027 melesat 48 ringgit Malaysia menjadi 5.118 ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Februari 2027 melonjak 46 ringgit Malaysia menjadi 5.141 ringgit Malaysia per ton.
Pergerakan harga menunjukkan tren yang bervariasi. Kontrak jangka pendek cenderung tertekan, sementara kontrak pengiriman yang lebih panjang masih mencatat penguatan. Penguatan harga CPO ini juga ditopang oleh kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian. Dari dalam negeri, pembeli CPO dilaporkan meningkatkan pembelian menjelang penerapan penuh mandat B50 biodiesel pada Oktober 2026.
Mandat B50 merupakan kebijakan pemerintah yang mewajibkan pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% dengan solar. Penerapan kebijakan ini berpotensi meningkatkan penyerapan CPO domestik secara signifikan dan memperketat pasokan yang tersedia untuk pasar ekspor. Di sisi lain, perkembangan El Niño memicu kekhawatiran akan kondisi cuaca yang lebih kering, yang berpotensi menekan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.
Stok Melimpah Batasi Kenaikan Harga
Meskipun ada dorongan dari sisi permintaan dan kekhawatiran pasokan, ruang kenaikan harga CPO masih terbatas oleh pasokan yang melimpah. Persediaan minyak sawit Malaysia dilaporkan meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli. Kondisi ini dapat menahan laju kenaikan harga lebih lanjut.
Risiko dari sisi permintaan juga membayangi pasar komoditas ini. Kilang minyak nabati di India berpotensi meningkatkan penggunaan minyak kedelai (soyoil) yang harganya lebih murah. Impor soyoil India diperkirakan akan mencapai rekor pada bulan Agustus. Sementara itu, sejumlah surveyor kargo memperkirakan pengiriman minyak sawit Malaysia selama periode 1-20 Agustus mengalami penurunan antara 5,5% hingga 13,2% dibandingkan periode yang sama pada bulan Juli. Penurunan ini mengindikasikan momentum ekspor CPO masih lemah dan dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Ikuti DailyFX.ID
