— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menguat signifikan pada perdagangan Rabu (19/8/2026), melanjutkan tren positif selama tiga hari berturut-turut. Penguatan ini membawa harga CPO ke level tertinggi sejak awal April, didorong oleh sentimen positif dari kenaikan harga minyak nabati lainnya serta minyak mentah global.

Faktor utama yang mendorong kenaikan harga CPO adalah ketidakpastian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat naik 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.654 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 menguat 40 ringgit Malaysia mencapai 4.794 ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman yang lebih jauh juga menunjukkan tren positif. Kontrak November 2026 terkerek 33 ringgit Malaysia menjadi 4.893 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 meningkat 29 ringgit Malaysia menjadi 4.972 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 melesat 26 ringgit Malaysia menjadi 5.033 ringgit Malaysia per ton, diikuti kontrak Februari 2027 yang melonjak 23 ringgit Malaysia menjadi 5.071 ringgit Malaysia per ton.

Pergerakan harga yang bervariasi antar kontrak menunjukkan bahwa kontrak jangka pendek cenderung tertekan, sementara kontrak pengiriman yang lebih panjang masih mencatat penguatan signifikan. Penguatan harga CPO ini juga mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago. Kenaikan harga minyak mentah di tengah ketidakpastian terkait pelayaran melalui Selat Hormuz dan potensi gangguan terhadap arus perdagangan global turut menopang harga CPO.

Kondisi ini meningkatkan daya tarik CPO sebagai komoditas energi dan minyak nabati alternatif, terutama ketika harga minyak mentah bergerak naik. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan harga CPO akan tetap berada di atas level 4.600 Ringgit Malaysia pada September, didasarkan pada potensi pengetatan pasokan dan gangguan perdagangan yang berkelanjutan.

Stok Tinggi Batasi Kenaikan Harga CPO

Meskipun prospek kenaikan harga terlihat positif, ruang penguatan lebih lanjut masih dibatasi oleh tingginya persediaan CPO. Stok minyak sawit Malaysia pada bulan Juli dilaporkan meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir, yang menjadi faktor penahan momentum kenaikan harga CPO.

Dari sisi permintaan, India berpotensi mengimpor minyak kedelai dalam jumlah rekor pada Agustus. Hal ini dapat mengurangi permintaan minyak sawit karena kilang-kilang di India mungkin akan memilih minyak kedelai yang lebih murah menjelang peningkatan konsumsi pada musim festival.

Sinyal ekspor CPO Malaysia juga masih menunjukkan gambaran yang beragam, membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap prospek harga dalam jangka pendek. Intertek memperkirakan pengiriman produk minyak sawit Malaysia turun 7,9% pada periode 1-15 Agustus dibandingkan periode yang sama pada Juli. Sebaliknya, AmSpec memperkirakan ekspor justru meningkat 3,2% dalam periode yang sama. Perbedaan estimasi ini membuat pasar belum mendapatkan gambaran yang solid mengenai arah permintaan CPO Malaysia dalam waktu dekat.