DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore (18/9/2026), rupiah tercatat melemah tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS. Posisi ini sedikit memburuk dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.753 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah untuk sepekan ke depan diproyeksikan berada di antara Rp 17.650 hingga Rp 18.000 per dolar AS. Ia menambahkan, sentimen negatif dari konflik di Timur Tengah yang mengganggu perlintasan komoditas minyak di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama kerentanan rupiah.
“Prospek pasokan masih sangat tidak pasti,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Selain itu, perhatian pasar masih tertuju pada langkah Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% untuk menekan inflasi di Amerika Serikat. Nada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh turut memperkuat kekhawatiran pasar.
Di sisi domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026. Kementerian Keuangan mencatat defisit tersebut terjaga di level 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini terjadi karena pendapatan negara yang lebih rendah dari belanja, dengan realisasi pendapatan negara sebesar Rp 2.055,6 triliun atau 65,2% dari target APBN 2026. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 2.295,7 triliun, menghasilkan defisit sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,9% dari PDB.
Ibrahim juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta fenomena El Nino pada tahun 2026. Kondisi panas dan kering yang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Ikuti DailyFX.ID
