DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan sesi I, Kamis (24/9/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh gabungan sentimen negatif dari pasar global dan domestik, termasuk lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan pergerakan arus dana asing.
Berdasarkan data IDX, IHSG tercatat turun 67,81 poin atau 1,06% ke level 6.307. Indeks bergerak dalam rentang 6.304 hingga 6.368 selama sesi perdagangan.
Analis dari Pilarmas menilai bahwa sentimen pasar global menjadi faktor utama yang membebani pergerakan IHSG. Investor menunjukkan peningkatan kewaspadaan di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield obligasi.
“Kondisi tersebut diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik AS-Iran kembali menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak dunia,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (24/9/2026).
Pilarmas menambahkan, kenaikan harga minyak berisiko memperbesar tekanan inflasi global. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas. Hal ini berpotensi membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham.
Selain konflik Timur Tengah, Pilarmas juga menyoroti rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Investor menantikan perkembangan hubungan perdagangan kedua negara, khususnya terkait perpanjangan gencatan senjata perdagangan AS-China.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan selama dua bulan hingga 10 Januari. Namun, China belum memberikan konfirmasi resmi mengenai tanggal berakhirnya kesepakatan tersebut. Pertemuan Trump-Xi diperkirakan akan membahas isu-isu strategis seperti kecerdasan buatan, Iran, Taiwan, dan hubungan ekonomi kedua negara.
Dari sisi domestik, Pilarmas menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah dan arus dana asing juga menjadi perhatian utama. “Penguatan dolar AS di tengah kenaikan yield obligasi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Pilarmas.
Meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada September untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, kondisi eksternal yang bergejolak membuat pasar domestik tetap rentan terhadap perubahan sentimen global.
Pilarmas menegaskan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik juga menjadi perhatian investor. Kombinasi faktor-faktor ini mendorong pelaku pasar untuk lebih selektif dan meningkatkan aksi jual pada sejumlah saham.
Di tengah tekanan IHSG hari ini, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) untuk dicermati. “Saham SSMS direkomendasikan buy dengan level support Rp 1.005 dan resistance Rp 1.200,” tutup Pilarmas.
Ikuti DailyFX.ID
