— JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang melanjutkan tren penguatannya pada pekan ini. Kinerja positif di akhir pekan lalu, yang ditutup menguat 1,59% ke level 6.401, membuka ruang bagi IHSG untuk menguji area resistance 6.454 hingga 6.554. Namun, investor disarankan untuk tetap mencermati sentimen suku bunga dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa pergerakan IHSG telah berhasil melakukan solid rebound dari MA20 untuk kedua kalinya pada perdagangan Jumat lalu. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi pergerakan indeks pada pekan ini. “Ini mengindikasikan pergerakan IHSG bisa mixed to higher,” kata Nafan.

Menurut Nafan, IHSG diprediksi akan mencoba menguji level resistance 6.454-6.554 sepanjang pekan ini. Sementara itu, batas bawah pergerakan indeks akan berada pada area support 6.363-6.292.

Dari sisi sentimen domestik, pengumuman BI Rate pada Rabu mendatang menjadi salah satu faktor utama yang akan menggerakkan IHSG. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Namun, Nafan melihat bahwa perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga. Pasar juga akan mencermati pernyataan Gubernur BI yang baru, terutama arah kebijakan moneter dan pandangannya terhadap stabilitas rupiah.

“Kalau pernyataannya cenderung hawkish, bisa mendorong penguatan nilai tukar rupiah,” ujar Nafan. Ia menambahkan bahwa kebijakan BI juga perlu tetap pro-growth untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah, terutama mengingat target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup agresif pada 2027. “Kita juga harus mengejar pertumbuhan ekonomi yang diharapkan oleh pemerintah. Apalagi kita juga melihat terkait pidato Presiden Prabowo terkait dengan Nota Keuangan dan RAPBN 2027. Di mana semestinya pertumbuhan ekonomi itu berada di kisaran 5,8% hingga 6,5% pada 2027,” jelasnya.

Di sisi lain, Nafan menekankan peran penting BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dinilai akan mendapat apresiasi dari pelaku pasar. “Tapi di sisi lain, BI juga berperan dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Yang tentunya itu akan diapresiasi oleh para pelaku pasar,” kata Nafan.

Dari faktor eksternal, dinamika geopolitik masih menjadi perhatian investor. Nafan menyebutkan, hubungan Iran dan Amerika Serikat yang masih berfluktuasi turut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan global, terutama setelah terjadi gangguan di jalur pelayaran Selat Hormuz. Sentimen ini berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan global. Oleh karena itu, investor domestik disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik selain faktor domestik seperti BI Rate dan rupiah.

Terkait pilihan saham, Nafan merekomendasikan Add ARCI dengan target harga Rp1.265, Add VKTR dengan target Rp935, serta Add WIIM dengan target Rp1.780.

Pandangan Positif dari MNC Sekuritas

Pandangan positif terhadap IHSG juga disampaikan Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia mengatakan, IHSG saat ini berada pada tren bullish untuk jangka pendek. Penguatan IHSG pada akhir pekan lalu sebesar 1,59% ke level 6.401, disertai munculnya volume pembelian, memberikan sinyal positif. Pergerakan indeks juga masih mampu bertahan di atas MA20.

Meskipun demikian, investor belum dapat sepenuhnya mengabaikan risiko koreksi. Pada timeframe weekly, IHSG masih terkoreksi 0,12% dan pergerakannya masih tertahan oleh MA20. Kondisi ini menunjukkan bahwa momentum penguatan IHSG masih perlu dikonfirmasi oleh keberlanjutan volume pembelian dan kemampuan indeks menembus level resistance terdekat. Jika mampu melewati area tersebut, peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka.

Untuk rekomendasi saham, Herditya menyarankan buy on weakness AADI dengan target harga Rp9.575-9.975, trading buy ANTM dengan target Rp3.140-3.190, buy on weakness PGAS dengan target Rp1.555-1.620, serta trading buy VKTR dengan target Rp935-975.

Pasar Surat Utang Negara (SUN)

Di pasar surat utang, asumsi imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sebesar 6,9% dalam RAPBN 2027 dinilai tidak serta-merta menjadi target yield pasar pada akhir tahun. Angka tersebut merupakan rata-rata tahunan yang digunakan pemerintah untuk menghitung biaya bunga utang.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menjelaskan bahwa asumsi tersebut masih cukup realistis jika melihat posisi yield SUN 10 tahun yang saat ini berada di sekitar 7,2%. “Angka itu merupakan rata-rata tahunan untuk menghitung biaya bunga utang, bukan target yield pada akhir 2027,” kata Yusuf.

Menurutnya, selisih antara asumsi pemerintah dan yield pasar saat ini sekitar 25-30 basis poin (bps), yang secara historis masih tergolong wajar. Namun, terdapat sejumlah risiko yang dapat membuat yield SUN sulit turun secara signifikan menuju 6,9%. Salah satunya adalah pergerakan nilai tukar rupiah.

Pemerintah dalam RAPBN 2027 menggunakan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. “Jika rupiah tetap lemah, ruang penurunan yield akan lebih terbatas karena premi risiko nilai tukar masih menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan yield SBN,” jelas Yusuf.