DailyFX.ID — Pasar saham Indonesia diprediksi masih akan bergerak volatil menjelang periode rebalancing indeks MSCI yang akan efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Financial Educator Manager, Hendry Wijaya, menjelaskan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini cenderung mengalami konsolidasi melemah. Kondisi ini tercermin dari koreksi IHSG sebesar 0,37% menjadi 6.501 pada perdagangan sebelumnya, dan kembali tertekan di kisaran 6.420 menjelang penutupan sesi II pada Rabu (26/8/2026).
Tekanan pasar menjelang rebalancing MSCI ini sebenarnya tidak sepenuhnya mengejutkan. Sebagian besar dampak dari keputusan MSCI telah diperhitungkan atau ‘priced in’ oleh para pelaku pasar. Hendry menyatakan bahwa hasil review Agustus yang telah diumumkan pada 13 Agustus lalu tidak membawa kejutan negatif. Sebelumnya, MSCI telah mengonfirmasi perlakuan khusus terhadap pasar Indonesia sejak 7 Juli 2026, termasuk pembekuan ‘foreign inclusion factor’ (FIF) dan ‘number of shares’ (NOS), serta tidak adanya penambahan konstituen ke indeks MSCI Global Standard.
Dalam rebalancing kali ini, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dipastikan keluar dari MSCI Global Standard. Selain itu, sembilan saham lainnya turut keluar dari indeks MSCI Small Cap. Saham-saham tersebut meliputi PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Land Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Hendry memperkirakan volume transaksi dan volatilitas pasar akan berpotensi meningkat menjelang periode efektif rebalancing, terutama pada perdagangan 29-31 Agustus. Saham yang keluar dari indeks berpotensi menghadapi tekanan jual dari dana pasif, sementara saham yang mengalami kenaikan bobot diperkirakan akan mendapatkan aliran dana yang relatif lebih besar. “Yang tersisa adalah eksekusi teknis ‘passive fund’ pada tanggal efektif, dengan penutupan 31 Agustus. Potensi ke depan, volume dan volatilitas akan memuncak menjelang closing 29-31 Agustus,” jelasnya.
Setelah rebalancing efektif pada 31 Agustus dan mulai tercermin pada perdagangan 1 September 2026, Hendry memproyeksikan tekanan teknis dari aksi penyesuaian portofolio tersebut akan mulai mereda. Selanjutnya, arah pergerakan IHSG akan kembali lebih banyak ditentukan oleh fundamental makroekonomi dan kondisi global.
IHSG Masih ‘Bullish’ dalam Jangka Menengah
Di tengah tekanan yang ada, Hendry tetap mempertahankan pandangan positif terhadap struktur IHSG dalam jangka menengah. Koreksi yang terjadi saat ini dinilai masih dalam kategori koreksi sehat selama indeks mampu bertahan di atas level ‘support’ penting. “Secara struktur menengah, tren masih bullish selama bertahan di atas ‘support’ IHSG saat ini,” katanya.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan berpotensi menguji area ‘support’ di kisaran 6.377 hingga 6.255. Apabila tekanan mereda dan indeks kembali menguat, level 6.623 hingga 6.730 menjadi area ‘resistance’ sekaligus target penguatan berikutnya. Dengan demikian, pergerakan IHSG hingga awal September diperkirakan masih diwarnai tarik-menarik antara tekanan teknis akibat rebalancing MSCI dan peluang pemulihan setelah aksi penyesuaian portofolio dana pasif selesai.
Sentimen Domestik dan Global Perlu Dicermati
Selain MSCI, investor juga perlu mencermati sejumlah sentimen domestik dan global yang berpotensi menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Dari dalam negeri, proses ‘fit and proper test’ calon Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu perhatian pasar. Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI menjalani uji kelayakan pada 26-27 Agustus 2026.
Menurut Hendry, proses tersebut berpotensi memberikan sentimen positif karena memberikan kepastian mengenai kepemimpinan bank sentral ke depan. Kepastian ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor. Rupiah sendiri masih bergerak rentan di kisaran Rp 17.670-Rp 17.712 per dolar AS, dengan level psikologis Rp 17.700 menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan investor.
Sementara dari global, perhatian pasar tertuju pada data inflasi ‘Personal Consumption Expenditures’ (PCE) Amerika Serikat serta sinyal kebijakan Federal Reserve setelah forum Jackson Hole. Data tersebut akan menjadi salah satu penentu ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed dan pada akhirnya memengaruhi aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, pergerakan Wall Street yang kembali menguat, terutama ditopang saham teknologi, penurunan harga minyak, serta penguatan pasar obligasi menjadi sentimen eksternal yang relatif positif bagi pasar saham Indonesia.
Risiko Demonstrasi Diantisipasi
Aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8/2026) juga menjadi perhatian investor. Hendry menilai dampak aksi tersebut terhadap IHSG sejauh ini relatif terbatas, selama demonstrasi berlangsung damai dan tidak berkembang menjadi gangguan terhadap aktivitas ekonomi. Menurut dia, isu yang diangkat dalam demonstrasi lebih banyak berkaitan dengan politik dan legislasi, seperti RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Karena itu, aksi tersebut belum secara langsung menyentuh isu ekonomi dan fiskal yang berpotensi mengguncang kepercayaan investor.
“Selama tetap damai, dampaknya lebih ke ‘noise’ jangka sangat pendek, seperti ‘risk-off intraday’ dan pelemahan rupiah tipis, ketimbang menjadi pembalik tren,” ungkap Hendry. Meski demikian, investor tetap perlu mengantisipasi risiko apabila terjadi eskalasi yang tidak terduga, khususnya bentrokan atau gangguan terhadap aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut dapat memicu aksi ‘profit taking’ secara cepat dan meningkatkan volatilitas IHSG.
Saran Saham Pilihan
Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, Hendry menyarankan investor untuk mencermati saham-saham yang memiliki eksposur terhadap sektor komoditas dan energi. Menurut dia, sektor bahan baku menjadi salah satu sektor yang relatif konsisten berada di zona hijau sehingga berpotensi menjadi tujuan rotasi dana investor. “Tema utama pekan ini adalah rotasi ke komoditas dan energi, serta saham defensif menjelang volatilitas rebalancing,” katanya.
Sejumlah saham yang dinilai menarik untuk diperhatikan antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGEO), serta PT Timah Tbk (TINS). Dengan demikian, investor disarankan tidak hanya terpaku pada pergerakan IHSG, tetapi juga memperhatikan rotasi sektoral dan fundamental masing-masing emiten.
Setelah tekanan teknis akibat rebalancing MSCI mereda, peluang penguatan pasar akan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, arah suku bunga global, arus dana asing, serta kemampuan emiten mencatatkan pertumbuhan kinerja. Bagi investor jangka pendek, volatilitas menjelang akhir Agustus dapat dimanfaatkan secara selektif, tetapi tetap dengan manajemen risiko yang ketat. Sementara investor dengan horizon menengah dapat menunggu tekanan teknis mereda untuk kembali mengakumulasi saham dengan fundamental dan prospek pertumbuhan yang kuat.
Ikuti DailyFX.ID
