DailyFX.ID — JAKARTA – Saham dua emiten rokok besar, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), menunjukkan pergerakan yang serupa dalam dua hari perdagangan terakhir. Tren ini mencerminkan kondisi pasar yang sama-sama memengaruhi kinerja kedua perusahaan.
Pada Jumat, 18 September 2026, kedua saham ini mencatat pembelian bersih oleh investor asing. Gudang Garam membukukan net buy asing senilai Rp 7,67 miliar, sementara HM Sampoerna mencatat Rp 2,27 miliar. Pada hari yang sama, harga saham GGRM melonjak 2,29%, sedangkan HMSP stagnan.
Memasuki hari perdagangan Senin, 21 September 2026, tren pembelian bersih investor asing di kedua emiten tersebut menipis. Saham GGRM hanya mendapatkan net buy asing sebesar Rp 796,98 juta, dan HMSP mencatat Rp 429,93 juta. Akibatnya, kedua saham ini ditutup melemah. GGRM turun 1,40% ke level Rp 17.650, dan HMSP melemah 0,77% ke Rp 645.
Meskipun pergerakan sahamnya serupa, performa kedua perusahaan di paruh pertama 2026 menunjukkan dinamika yang berbeda. PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna/HMSP) berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau Indonesia dengan penjualan bersih Rp 56,5 triliun dan laba bersih Rp 4,2 triliun. Pangsa pasar mereka mencapai 29,6%.
Namun, volume penjualan Sampoerna mengalami penurunan 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh pergeseran konsumsi konsumen ke produk yang lebih terjangkau atau downtrading, serta masih maraknya peredaran rokok ilegal. Dampak terbesar terjadi pada segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang penjualannya turun 13%.
Sementara itu, pendapatan Gudang Garam selama enam bulan pertama 2026 mengalami penurunan 7,2% menjadi Rp 41,17 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya volume penjualan sebesar 13,6%.
Meskipun demikian, Gudang Garam berhasil memperbaiki profitabilitasnya melalui penyesuaian harga jual yang dilakukan secara bertahap sejak paruh kedua 2025 hingga awal 2026. Beban cukai, PPN, dan pajak rokok menurun 14,0% sejalan dengan penurunan volume penjualan, yang berkontribusi pada peningkatan margin laba bruto dari 8,5% menjadi 14,5%.
Selain itu, perseroan mampu menekan beban usaha sebesar 33,8% dan menurunkan beban bunga seiring dengan berkurangnya tingkat pinjaman. Faktor-faktor ini secara keseluruhan berkontribusi pada peningkatan laba Gudang Garam.
Stockbit Sekuritas mencatat bahwa Gudang Garam (GGRM) membukukan laba bersih Rp 1,4 triliun pada kuartal II 2026, naik signifikan secara tahunan dibandingkan kuartal II 2025 yang hanya Rp 13 miliar. Kenaikan ini disebabkan oleh efek low-base tahun sebelumnya, sehingga total laba bersih selama semester I 2026 mencapai Rp 3 triliun, jauh meningkat dari Rp 117 miliar pada semester I 2025.
Ikuti DailyFX.ID
