— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menghadapi pekan yang penuh ketidakpastian pada 14-18 September 2026. Investor akan memantau dengan cermat keputusan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dan Bank of Japan (BoJ). Keputusan ini berpotensi memengaruhi likuiditas global serta minat investor terhadap aset berisiko.

Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menyatakan bahwa katalis pergerakan IHSG pada pekan ini cenderung beragam atau mixed. Pasar secara luas menantikan keputusan The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Keputusan ini diambil setelah tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali menunjukkan peningkatan.

Data menunjukkan inflasi AS pada Agustus 2026 tercatat naik menjadi 0,4% secara bulanan, meningkat dari 0,1% pada Juli. Sementara itu, inflasi inti juga mengalami kenaikan menjadi 0,3% dari sebelumnya 0,2%.

Perhatian investor juga tertuju pada pengumuman keputusan suku bunga dari BoJ yang dijadwalkan pada Jumat, 18 September. Konsensus pasar memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, menjadikannya 1,25%. Level ini akan menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu sekitar 31 tahun.

“Kenaikan suku bunga BoJ juga perlu diperhatikan karena dapat memicu perubahan posisi pada yen carry trade, sementara keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah likuiditas global dan appetite terhadap risk asset,” ujar Imam dalam risetnya pada Senin (14/9/2026).

Menurut Imam, investor juga perlu mencermati komunikasi dari kedua bank sentral tersebut. Jika sinyal kebijakan yang disampaikan lebih hawkish dari perkiraan, tekanan terhadap aset berisiko berpotensi meningkat.

Dari sisi teknikal, Imam menjelaskan bahwa momentum jangka pendek IHSG memang mengalami pelemahan setelah indeks ditutup di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di sekitar level 6.623. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren menjadi bearish.

IHSG sempat mengalami penurunan hingga level 6.462, tetapi kemudian berhasil ditutup di 6.541. Kondisi ini membentuk lower shadow yang relatif panjang, menunjukkan adanya penolakan terhadap tekanan jual di area bawah.

“Meski secara warna candle masih merah, karakteristiknya menyerupai bullish hammer, sehingga penembusan MA20 masih dapat dikategorikan sebagai false break atau liquidity grab apabila IHSG mampu kembali naik di atas MA20 pada perdagangan berikutnya,” jelas Imam.

Saham Pilihan di Tengah Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian pasar global, IPOT melihat masih terdapat peluang pada sejumlah saham pilihan untuk strategi trading pekan ini.

1. ASII

Rekomendasi: Buy

Entry: 4.840-4.910

Target Price: 5.275

Stop Loss: < 4.720

Penjualan mobil nasional menunjukkan pemulihan yang semakin solid. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan wholesales Agustus 2026 mencapai 81.756 unit, naik 32,4% secara tahunan (yoy) dan 0,8% secara bulanan (mom). Angka ini juga menjadi level bulanan tertinggi sepanjang 2026. Dari sisi ritel, penjualan juga tumbuh 25,5% yoy menjadi 83.422 unit. Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, wholesales telah mencapai 599.491 unit atau tumbuh 20,1% yoy, sementara retail sales mencapai 594.984 unit atau naik 13,9% yoy.

2. CPIN

Rekomendasi: Buy

Entry: 3.160

Target Price: 3.380

Stop Loss: <3.050

Pemulihan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 14 Juli turut menjadi salah satu faktor pendorong permintaan broiler. Perkiraan harga broiler pada tahun fiskal 2026 (FY26F) dapat bertahan di sekitar Rp21.300 per kilogram, naik 10,5% yoy. Hal ini mendorong kenaikan estimasi laba FY26F CPIN sebesar 18%, dengan proyeksi pertumbuhan laba sekitar 27,4% yoy. Margin pakan berpotensi tetap terjaga, meskipun ada risiko El Niño yang dapat meningkatkan harga jagung lokal. Dengan harga broiler yang kuat, CPIN diperkirakan memiliki kemampuan lebih baik untuk melakukan pass-through terhadap kenaikan biaya input.

3. EXCL

Rekomendasi: Buy

Entry: 2.630

Target Price: 2.810

Stop Loss: < 2.540

Pada 4 September 2026, XLSMART menaikkan alokasi belanja modal (capitalized capex) tahun 2026 menjadi sekitar Rp20 triliun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perseroan masih agresif dalam mengalokasikan investasi untuk pengembangan jaringan dan integrasi pasca-merger.