DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menguat terbatas pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026), IHSG tercatat melemah 55,7 poin atau 0,86% ke level 6.394.
Sektor infrastruktur menunjukkan penguatan paling signifikan sebesar 0,43%, sementara sektor barang baku mengalami pelemahan terdalam mencapai 1,21%. Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisisnya menyatakan, “Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 6.320-6.460.”
Perhatian pasar tertuju pada risalah The Fed yang dirilis semalam, menunjukkan adanya dukungan dari sejumlah pejabat terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan kesiapan The Fed untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan penurunan. Para pejabat The Fed menekankan bahwa interpretasi mereka akan tetap bergantung pada data ekonomi yang masuk.
Meskipun beberapa pejabat menyetujui kenaikan suku bunga, hasil pemungutan suara pada pertemuan Juli lalu masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan dengan skor 9-3. Fokus utama risalah tersebut adalah ekspektasi penurunan inflasi pada akhir tahun, seiring meredanya isu tarif dan kenaikan harga energi. Namun, konflik yang berkelanjutan diperkirakan akan terus mendorong harga minyak di atas US$ 90 per barel, membuka peluang inflasi meningkat, kecuali jika perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran tercapai. Para pejabat The Fed pun mengakui adanya potensi ketidakjelasan prospek inflasi akibat perang.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat dilaporkan tetap stabil dengan keseimbangan antara suplai dan permintaan. Ketua The Fed menuai kritik terkait keputusannya yang dinilai kurang memberikan informasi tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Salah satu usulan yang muncul adalah pengurangan jumlah rapat kebijakan tahunan komite dari delapan menjadi enam pertemuan, yang memungkinkan pengumpulan data ekonomi lebih banyak sebelum pengambilan keputusan.
Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat, “Sejauh ini kalau kita perhatikan, The Fed tampaknya jauh lebih tenang dalam menyikapi data ketenagakerjaan dibandingkan dengan inflasi yang bergerak secara fluktuatif.” Eskalasi ekspektasi inflasi terus terjadi seiring ketidakpastian hubungan AS-Iran, dengan banyak pejabat yang menilai risiko inflasi lebih besar daripada isu ketenagakerjaan.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, para pejabat The Fed tetap optimis terhadap aktivitas perekonomian. Namun, sebagian peserta rapat masih mengkhawatirkan pembangunan infrastruktur AI yang terlalu cepat. Peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap ada, ditambah kekhawatiran terhadap perekonomian AS, yang telah mendorong imbal hasil US Treasury 30y turun menjadi 5,18%, serta melemahkan Dolar dan emas ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan juga sejalan dengan ekspektasi pasar. Meskipun imbal hasil US Treasury mengalami kenaikan, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) justru menunjukkan penurunan. Penurunan imbal hasil SUN ini relatif terkendali berkat kepemilikan mayoritas oleh pemerintah dan investor domestik, yang memungkinkan pengaturan pergerakan harga yang lebih stabil di tengah volatilitas pasar global.
Dalam negeri, pemerintah berencana menarik utang baru sebesar Rp 876,3 triliun pada tahun 2027, meningkat dari proyeksi Rp 736,6 triliun pada 2026. Alokasi ini mencakup Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 779,9 triliun dan pinjaman neto Rp 96,3 triliun. Dana tersebut tidak hanya untuk menutup defisit anggaran sebesar Rp 671,2 triliun, tetapi juga untuk membiayai kewajiban utang jatuh tempo dan keperluan lainnya.
Pemerintah berkomitmen menjaga risiko utang melalui prioritas SBN domestik, pengelolaan utang yang aktif, serta keseimbangan tenor untuk mempertahankan rasio utang terhadap PDB pada tingkat yang aman. “Kami menilai kenaikan kebutuhan utang 2027 mencerminkan masih tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal, terutama untuk menutup defisit dan membiayai utang jatuh tempo,” ujar Pilarmas.
Strategi pemerintah yang mengutamakan SBN domestik dan manajemen utang aktif dinilai sebagai langkah positif untuk mengendalikan risiko eksternal dan menekan biaya bunga. Namun, kenaikan beban bunga hingga Rp 650,3 triliun perlu menjadi perhatian serius agar tidak mempersempit ruang fiskal, yang harus diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Menyikapi kondisi tersebut, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PWON, MEDC, dan ELSA untuk aktivitas trading pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Ikuti DailyFX.ID
