— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Berlanjutnya aksi jual oleh investor asing, melemahnya nilai tukar rupiah, serta terkoreksinya mayoritas indeks di bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Di sisi lain, kenaikan harga beberapa komoditas berpeluang memberikan sentimen positif di pasar. CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.240-6.181 dan resist 6.360-6.415.

Perdagangan pada Rabu waktu Amerika menunjukkan indeks di bursa Wall Street ditutup bervariasi dengan mayoritas melemah tipis. Hal ini terjadi seiring berlanjutnya kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di tengah kenaikan harga minyak mentah.

Laporan dari kantor berita Reuters menyebutkan bahwa juru runding Amerika dan Iran di New York sedang mempertimbangkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik militer kedua negara. Kesepakatan tersebut meliputi Iran yang membuka selat Hormuz dan Amerika yang mencabut sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Harga minyak mentah jenis WTI naik 2,7% menjadi US$ 94,61 per barel, dan Brent naik 3% ke level US$ 106 per barel. Sementara itu, imbal hasil obligasi dengan tenor 2, 10, dan 30 tahun kompak mencatatkan kenaikan. Imbal hasil tenor 2 tahun menjadi 4.941%, tenor 10 tahun melonjak ke 5.223% (tertinggi sejak Juni 2007), dan tenor 30 tahun menyentuh 5,501% (level tertinggi sejak Juni 2004).

Menyikapi kondisi tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham DSNG, TAPG, TINS, ENRG, ERAA, dan AKRA untuk aktivitas trading pada Jumat (25/9/2026).