— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Prediksi ini didasarkan pada sentimen negatif yang datang dari bursa Wall Street serta berlanjutnya aksi jual oleh investor asing.

Melemahnya indeks di bursa saham Amerika Serikat menjelang keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan, yang berpotensi naik 25 basis poin, diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi IHSG. Selain itu, aksi jual investor asing yang masih terjadi juga berpeluang menambah sentimen negatif di pasar saham domestik.

“IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 6.390-6.320 dan resist 6.530-6.605,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasannya pada Rabu (16/9/2026).

Pada perdagangan sebelumnya, indeks di bursa Wall Street kembali ditutup melemah. Hal ini seiring dengan antisipasi investor terhadap keputusan The Fed terkait suku bunga acuan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak mentah.

Imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 di 5,04%, sebelum akhirnya ditutup di 5%. Kenaikan imbal hasil obligasi belakangan ini menjadi perhatian investor di pasar saham di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan antara Amerika dan Iran akan memicu inflasi dan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan.

Sementara itu, harga minyak mentah kembali melanjutkan kenaikannya setelah Arab Saudi menghentikan operasional pipa minyak mentahnya yang mem-bypass Selat Hormuz. Untuk jenis WTI, harga naik lebih dari 4% ke level US$ 105,83 per barel, sedangkan Brent menguat hampir 3% menjadi US$ 108,75 per barel.

Menghadapi kondisi tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham CMRY, ERAA, BRMS, TINS, AADI, dan AUTO untuk aktivitas trading pada Rabu, 16 September 2026.