DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak turun pada sejam perdagangan Senin (24/8/2026), setelah sempat dibuka menguat. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya risiko aksi ambil untung atau profit taking setelah reli sebelumnya. Pelemahan volume perdagangan dan ketidakpastian global juga disebut membatasi ruang penguatan indeks.
IHSG hari ini tercatat melemah 0,35% ke level 6.504,67 saat berita ditulis. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG memang masih membentuk high terbaru dan momentum bullish belum sepenuhnya hilang. Namun, target dari pola wave (v) / C telah tercapai, sehingga ruang kenaikan mulai terbatas.
“Berdasarkan indikator, MA20 dan MA60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meski demikian, volume mulai mengalami penurunan,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Senin (24/8/2026).
Nafan menambahkan, kondisi tersebut membuka peluang terjadinya profit taking, terutama setelah IHSG mengalami penguatan dalam perdagangan sebelumnya. Risiko koreksi juga semakin perlu diperhatikan karena pekan ini hanya memiliki empat hari perdagangan.
Menurut Nafan, tekanan terhadap IHSG juga berpotensi datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas seiring rencana Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Potensi penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz oleh Iran serta keterlibatan Turki setelah serangan Israel ke wilayah Suriah turut meningkatkan kekhawatiran pasar.
Di Eropa Timur, lanjut dia, konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda juga masih menjadi sumber ketidakpastian bagi investor global. “Kondisi tersebut dapat memicu investor meningkatkan kewaspadaan dan membatasi minat terhadap aset berisiko, termasuk saham,” papar Nafan.
Volume Mulai Melemah
Dari sisi teknikal, Nafan mengatakan, pelemahan volume menjadi salah satu sinyal yang perlu dicermati. Meskipun MA20 dan MA60 telah membentuk positive crossover, penurunan volume mengindikasikan penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung peningkatan partisipasi pasar.
“Karena itu, investor perlu mewaspadai apabila tekanan jual meningkat dan indeks gagal mempertahankan area support terdekat. Sedangkan support IHSG hari ini berada di level 6.454 dan 6.406, sedangkan resistance berada di 6.554 dan 6.616,” jelasnya.
Di sisi lain, Nafan menambahkan, sejumlah faktor domestik masih dapat menahan tekanan terhadap IHSG hari ini. Penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.694 per dolar AS serta pertumbuhan uang beredar luas (M2) sebesar 8,3% secara tahunan menjadi sentimen positif bagi pasar domestik.
Pertumbuhan M2 tersebut membawa likuiditas perekonomian pada Juli 2026 mencapai Rp 10.371,1 triliun. Penyaluran kredit juga tumbuh 13% YoY, meningkat dari 12,1% YoY pada Juni.
Sementara itu, Nafan menyebutkan, penguatan harga emas dunia ke level US$ 4.661,60 per ons troi juga berpotensi menopang saham-saham pertambangan yang memiliki eksposur terhadap emas.
“Investor disarankan tetap selektif mengakumulasi saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, serta menunjukkan indikasi pembalikan tren, dengan manajemen risiko yang disiplin,” tutup Nafan.
Ikuti DailyFX.ID
