— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi untuk mencapai level 7.000 dalam jangka menengah, meskipun tantangan tetap ada. Untuk mencapai target tersebut, IHSG perlu konsisten mempertahankan level support krusial di 6.500, dengan saham-saham unggulan seperti BBRI dan BBCA menjadi sorotan utama para investor.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menguraikan beberapa prasyarat penting yang harus dipenuhi agar IHSG dapat melaju ke level 7.000. Syarat-syarat tersebut meliputi perbaikan arus dana asing yang berkelanjutan, penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) secara konsisten, serta pelemahan nilai tukar dolar AS.

Hendra menilai rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah dengan tenor panjang, setidaknya menjadi US$ 4 miliar per operasi, dapat memberikan sentimen positif bagi pasar global, termasuk pasar modal Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa peluang IHSG mencapai 7.000 tidak semata-mata bergantung pada besarnya nilai pembelian kembali obligasi pemerintah AS (treasury).

Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan kebijakan tersebut dalam menekan imbal hasil treasury, melemahkan dolar AS, mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan pada akhirnya mendorong investor global untuk kembali meningkatkan eksposur mereka terhadap aset berisiko.

Sinyal positif perbaikan mulai terlihat pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), IHSG tercatat naik 24,10 poin (0,37%) ke level 6.525,69. Memasuki pekan perdagangan, Senin (24/8/2026), IHSG sempat dibuka naik 18,3 poin (0,28%) ke posisi 6.544. Namun, hingga berita ini ditayangkan, IHSG mengalami pelemahan 23,3 poin (0,3%) ke level 6.502.

“Perubahan arus modal asing menjadi salah satu perkembangan yang paling diperhatikan,” ujar Hendra di Jakarta, Senin (24/8/2026). Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 992,6 miliar pada Jumat (21/8/2026), sehingga secara mingguan tercatat pembelian bersih sekitar Rp 548 miliar.

Menurut Hendra, pergerakan arus modal asing ini merupakan sinyal positif, mengingat sebelumnya tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG. Dana asing juga dilaporkan mulai mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan.

Meskipun demikian, pembelian bersih selama satu pekan belum cukup untuk memastikan kembalinya modal asing secara permanen. Konfirmasi yang lebih kuat baru akan muncul apabila tren net buy asing berlangsung selama beberapa pekan berturut-turut dan disertai dengan kenaikan IHSG serta volume transaksi yang meningkat.

Dalam jangka pendek, IHSG masih berpeluang melanjutkan tren kenaikannya, meskipun aksi ambil untung (profit taking) perlu diwaspadai. Hendra menempatkan level 6.500 sebagai level support psikologis yang penting. Sementara itu, area 6.550-6.580 dipandang sebagai resistance terdekat.

Apabila IHSG berhasil menembus level 6.580 dengan peningkatan volume transaksi dan berlanjutnya pembelian bersih dari investor asing, maka peluang menuju target 6.650 akan semakin terbuka. Setelah level tersebut terlampaui, target 7.000 dinilai menjadi lebih realistis untuk dicapai dalam jangka menengah. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level 6.500 dapat membuka risiko koreksi menuju area 6.450-6.480, ujar pendiri Republik Investor tersebut.

Jika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang terus mengalami penurunan, Hendra memprediksi sektor perbankan dan saham berkapitalisasi besar akan menjadi penerima manfaat utama. Penurunan imbal hasil aset AS membuat aset di negara berkembang menjadi relatif lebih menarik bagi investor.

Pada saat yang sama, pelemahan dolar AS dapat mengurangi risiko nilai tukar bagi investor asing. Dari sisi domestik, sentimen positif juga didukung oleh pertumbuhan kredit yang mencapai sekitar 13%, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 sebesar 8,3% secara tahunan pada Juli 2026, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,29% pada kuartal II.

Perbaikan pada neraca pembayaran juga memberikan dukungan terhadap stabilitas eksternal Indonesia. Dalam kondisi tersebut, saham-saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berpotensi menjadi penggerak utama IHSG.

Keempat bank tersebut memiliki likuiditas yang tinggi serta bobot yang signifikan dalam indeks. Karakteristik ini membuat saham-saham bank besar berpeluang menjadi tujuan utama bagi investor institusi ketika aliran modal asing menunjukkan peningkatan.

Selain sektor perbankan, sektor energi, pertambangan, dan saham-saham yang berbasis emas juga berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga komoditas serta pelemahan dolar AS. Namun, Hendra mengingatkan bahwa penguatan harga emas dan Bitcoin secara bersamaan mengindikasikan bahwa investor global belum sepenuhnya berada dalam fase pengambilan risiko (risk-on). Kondisi ini juga menunjukkan adanya diversifikasi risiko terhadap dolar AS, kekhawatiran akan inflasi, dan besarnya utang pemerintah AS.