— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan 111,50 poin atau 1,7% pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (14/9/2026), menempatkannya di level 6.429. Investor memilih untuk bersikap wait and see menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), seiring dengan kenaikan harga minyak dunia yang kembali menembus angka US$ 100 per barel.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan pelaku pasar yang mencermati hasil pertemuan The Fed sekaligus mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian nasional.

Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan dan menembus US$ 100 per barel setelah Arab Saudi menghentikan operasi pada jalur pipa utama menyusul serangan drone. Peristiwa ini juga menyebabkan penundaan pembicaraan dengan negara-negara Teluk.

“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global,” ungkap Pilarmas dalam risetnya pada Senin (14/9/2026).

Di samping itu, Pilarmas menambahkan, pasar juga tengah mencerna data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru. Inflasi bulanan pada Agustus 2026 tercatat naik menjadi 0,4% dari 0,1% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi tahunan tetap berada di angka 3,4%, dan inflasi inti bulanan menunjukkan peningkatan menjadi 0,3% dari 0,2%.

Menurut Pilarmas, kenaikan data inflasi tersebut menjadikan prospek suku bunga The Fed sebagai fokus utama perhatian pasar. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini mencapai 86,5%.

“Pasar juga memperkirakan adanya kenaikan suku bunga berikutnya hingga akhir tahun,” tambah Pilarmas.

Harga Minyak Tekan IHSG

Dari dalam negeri, Pilarmas mengemukakan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya melalui pos subsidi energi. Situasi ini juga berisiko memperlebar defisit anggaran dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

“Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan kebijakan The Fed yang akan datang sambil menilai dampak dari melonjaknya harga minyak,” papar Pilarmas.

Pada sesi pertama perdagangan Senin, beberapa saham tercatat masih mampu mencatatkan kenaikan. Saham SEMA, LAPD, MPIX, ALKA, dan FORU menjadi saham dengan pertumbuhan terbesar. Sementara itu, saham EMAS, BYAN, CSMI, HADE, dan DOOH mengalami penurunan terbesar.

Di tengah tekanan pasar yang terjadi, Pilarmas merekomendasikan aksi beli untuk saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Saham BRMS tercatat memiliki level support di 690 dan level resistance di 780.