DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (24/9/2026), sehari setelah sempat mencatat kenaikan lebih dari 1%. Pelemahan ini mengindikasikan bahwa penguatan indeks belum mampu menembus tekanan jual yang mendominasi pasar saham domestik.
IHSG ditutup terkoreksi 76,31 poin atau 1,20% ke level 6.298,61 pada Kamis. Sehari sebelumnya, indeks sempat melonjak 1,56% ke 6.374,91. Kenaikan yang terjadi pada Rabu tersebut belum mampu dipertahankan pada perdagangan berikutnya.
Tekanan jual kembali muncul seiring berlanjutnya aksi jual oleh investor asing. Pada perdagangan Rabu, saat IHSG menguat, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 468,26 miliar di pasar reguler. Saham BBRI menjadi salah satu yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp 187,64 miliar, diikuti BMRI Rp 128,73 miliar dan TLKM Rp 124,67 miliar.
Kondisi serupa berlanjut pada Kamis. Pada sesi I, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp 987 miliar, dengan BMRI, BBRI, dan TLKM menjadi saham yang paling tertekan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG dalam dua hari terakhir merupakan kombinasi sentimen global dan domestik. Namun, dalam jangka pendek, faktor eksternal cenderung lebih dominan.
“Kenaikan yield US Treasury membuat aset berbasis dolar AS menjadi relatif lebih menarik sehingga mendorong investor global melakukan pengurangan eksposur pada aset berisiko, termasuk emerging markets,” ujar Nafan.
Menurutnya, tekanan tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah dan berlanjutnya foreign outflow. Sementara itu, pergantian Menteri Keuangan menjadi faktor domestik yang perlu dicermati karena berkaitan dengan persepsi pasar terhadap kredibilitas fiskal dan kesinambungan kebijakan.
Namun, Nafan menilai pergantian Menteri Keuangan bukan faktor utama koreksi dalam dua hari terakhir. “Tekanan pasar lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi kenaikan yield AS, penguatan dolar, pelemahan rupiah, dan meningkatnya risk-off investor global,” jelasnya.
Kenaikan yield US Treasury dan pelemahan rupiah memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar saham Indonesia karena keduanya meningkatkan risiko sekaligus opportunity cost bagi investor asing. Ketika yield US Treasury meningkat, selisih imbal hasil dengan aset emerging market menjadi kurang menarik. Investor global cenderung melakukan rebalancing portofolio menuju aset yang dianggap lebih aman.
Di sisi lain, pelemahan rupiah meningkatkan risiko kerugian nilai tukar bagi investor asing ketika investasi mereka dikonversikan kembali ke dolar AS. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat mendorong aksi jual di pasar saham Indonesia, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang likuid.
Nafan menilai aksi net sell asing pada saham-saham big banks belum dapat langsung diartikan sebagai perubahan strategi investasi secara struktural. Menurutnya, kondisi tersebut lebih mencerminkan aksi risk-off dan tactical rebalancing.
Saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memiliki likuiditas tinggi sehingga relatif mudah digunakan investor asing untuk mengurangi eksposur ketika kondisi global kurang kondusif. “Bahkan ketika IHSG sempat rebound, foreign flow masih belum sepenuhnya memberikan konfirmasi positif. Artinya, investor asing masih cenderung berhati-hati dan melakukan seleksi terhadap aset Indonesia,” kata Nafan.
Jika tekanan yield US Treasury dan rupiah berlanjut, aksi jual asing masih berpotensi terjadi. Sebaliknya, apabila kondisi makro mulai stabil, aliran dana asing ke saham big banks berpeluang kembali secara bertahap.
Belum Bullish
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan penguatan IHSG lebih dari 1% pada Rabu lebih tepat dikategorikan sebagai technical rebound yang relatif rapuh. “Belum cukup untuk menyimpulkan bahwa IHSG telah memasuki tren bearish jangka panjang,” ujar Liza.
Menurutnya, rebound yang cepat setelah koreksi menunjukkan masih adanya buying interest pada level bawah. Namun, kembalinya IHSG terkoreksi pada Kamis menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya selesai.
Secara teknikal, IHSG masih berada di bawah EMA10, EMA20, dan EMA50. Indikator RSI juga masih berada di bawah level 50. Kondisi tersebut menunjukkan momentum bullish belum terbentuk secara kuat.
Liza menyebut IHSG perlu kembali menembus area 6.422–6.451 untuk mengonfirmasi penguatan yang lebih solid. Sebaliknya, jika level 6.290 ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.180. Dengan posisi IHSG yang kini berada di sekitar 6.300, area support tersebut menjadi penting untuk menentukan arah pasar.
Liza memperkirakan IHSG dalam jangka pendek masih akan bergerak volatile. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang berada di atas 5%. Selain itu, rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.800 per dolar AS dan berlanjutnya foreign selling turut menjadi faktor yang membuat investor perlu berhati-hati. “Jangka pendek masih cautious,” kata Liza.
Dia juga menyoroti perubahan mekanisme perdagangan saham yang akan berlaku mulai 28 September, ketika batas minimum harga saham Rp 50 dibuka hingga Rp 1. Perubahan tersebut berpotensi menambah volatilitas, terutama pada saham berharga rendah yang mengalami tekanan jual. Penurunan harga GOTO, misalnya, tidak otomatis akan menyeret IHSG secara fundamental, namun secara psikologis, tekanan pada saham berharga rendah dapat memengaruhi sentimen terhadap saham lain yang berada dalam kategori serupa.
Karena itu, area 6.290–6.180 menjadi penting untuk dicermati. Peluang rebound tetap terbuka, tetapi pergerakan IHSG diperkirakan masih cukup fluktuatif.
Senada, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan koreksi IHSG merupakan kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, kenaikan US Treasury yield membuat aset dolar kembali lebih menarik dan menekan risk appetite terhadap pasar emerging market. Sementara dari domestik, rupiah yang masih tertekan, foreign outflow, serta perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal turut membebani sentimen pasar.
Elandry menilai pergantian Menteri Keuangan bukan sentimen negatif utama. Penunjukan Suahasil Nazara justru sempat dipersepsikan memberikan sinyal policy continuity. Namun, pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal, termasuk pembahasan batas defisit 3% terhadap PDB serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah kebutuhan belanja yang besar.
Menurut Elandry, penguatan IHSG lebih dari 1% pada Rabu juga masih merupakan technical rebound yang cukup rapuh karena belum dikonfirmasi oleh foreign inflow. “Namun saya juga belum melihat kondisi ini otomatis berarti IHSG masuk bearish berkepanjangan,” jelasnya.
Pasar, lanjutnya, masih berada dalam fase high volatility dan price discovery. Investor perlu melihat apakah level support penting mampu bertahan dan apakah tekanan foreign selling mulai berkurang. Sedangkan untuk jangka pendek, Elandry melihat IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi. Area 6.200–6.250 menjadi support yang perlu diperhatikan.
Selama area tersebut bertahan, peluang technical rebound masih terbuka. Katalis untuk rebound antara lain penurunan US Treasury yield, rupiah yang lebih stabil, serta membaiknya foreign flow. Sebaliknya, apabila yield AS kembali naik, rupiah terus tertekan, dan asing melanjutkan net sell, IHSG masih berisiko menguji level support yang lebih rendah. “Jadi saat ini strateginya menurut saya belum perlu terlalu agresif. Lebih baik buy on weakness secara bertahap sambil melihat konfirmasi capital flow,” kata Elandry.
Secara sektoral, Elandry masih melihat peluang selektif pada saham perbankan besar setelah mengalami koreksi, khususnya BMRI dan BBRI. Dia juga mencermati sektor energi dan komoditas yang memiliki katalis tersendiri. Untuk sektor energi, MEDC dinilai dapat memperoleh sentimen dari tingginya harga minyak. Sementara BRMS dan NCKL masih dapat dicermati seiring tema emas dan nikel.
Saham Pilihan
Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, Nafan merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham dengan target harga tertentu. Saham tersebut meliputi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dengan target harga Rp 1.145, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 2.940, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) Rp 2.020, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) Rp 700, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Rp 1.170, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) Rp 550, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 3.440.
Ikuti DailyFX.ID
