DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali mencatat aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp 187,64 miliar pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Namun, tekanan jual tersebut berhasil diredam oleh aksi borong investor domestik yang menampung saham BBRI hingga harganya ditutup menguat 0,31% ke level Rp 3.190.
Data aplikasi Stockbit Sekuritas mencatat, investor domestik melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 187,6 miliar pada saham BBRI. Sejumlah sekuritas seperti CGS International Sekuritas, dan BCA Sekuritas tercatat melakukan net buy untuk investor domestik masing-masing Rp 30,5 miliar, Rp 26,7 miliar, dan Rp 23,8 miliar.
Penguatan saham BBRI ini terjadi setelah tiga hari perdagangan sebelumnya ditutup di zona merah. Kinerja positif BRI pada semester I-2026, dengan laba bersih sebesar Rp 31,2 triliun, menjadi salah satu faktor pendukung.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, dalam risetnya yang dikutip Selasa (22/9/2026), menyatakan bahwa realisasi laba BRI pada semester I-2026 meningkat 17,5% secara tahunan (year on year/yoy). Peningkatan ini menunjukkan adanya pemulihan awal pada segmen mikro.
Pertumbuhan laba emiten bank berkode saham BBRI tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan operasional dan perbaikan tekanan biaya kredit. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 9,9%, sementara laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) naik 12,8%.
Menurut Kevin, kinerja BBRI juga ditopang oleh penurunan biaya pendanaan yang berkontribusi pada terjaganya margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Sementara itu, biaya kredit (cost of credit/CoC) membaik menjadi 3,1%.
Dari sisi penyaluran kredit, total kredit BRI meningkat 16,2% yoy menjadi Rp 1.645,5 triliun. Pertumbuhan ini didominasi oleh segmen korporasi yang naik 47,1% dan segmen komersial yang tumbuh 58,1%.
“Segmen mikro masih menjadi portofolio kredit terbesar BBRI dengan nilai Rp 714,1 triliun. Namun, segmen tersebut mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap dibandingkan periode sebelumnya,” jelas Kevin.
Perbaikan kualitas aset BRI tercermin dari rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/gross NPL) konsolidasi yang turun menjadi 2,90%. Rasio pinjaman berisiko (loan at risk/LAR) juga membaik menjadi 9,1%.
Pada segmen mikro, pembentukan NPL turun menjadi 4,5%, sementara CoC mikro membaik menjadi 3,8%. Manajemen BBRI juga telah meningkatkan panduan pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 8–10%.
Rekomendasi Saham BBRI dan Target Harga
Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham BBRI. Valuasi saham dihitung menggunakan kombinasi metode Dividend Discount Model (DDM) dan Price to Book Value (P/BV).
Target harga saham BBRI untuk 12 bulan ke depan ditetapkan sebesar Rp 4.000. Pada level target tersebut, BBRI diperkirakan diperdagangkan pada rasio P/BV 2026 sebesar 1,8 kali, yang masih berada di bawah rata-rata tiga tahun sebesar 2,06 kali.
Risiko terhadap rekomendasi ini meliputi tekanan NIM BRI yang berlangsung lebih lama, likuiditas yang lebih ketat, pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari perkiraan, peningkatan biaya kredit, serta pemulihan kualitas aset mikro yang berjalan lebih lambat.
Ikuti DailyFX.ID
