— JAKARTA – Gejolak geopolitik dan gangguan pada jalur perdagangan internasional mulai berdampak signifikan terhadap rantai pasok pupuk global, menyulitkan berbagai negara dalam menjaga stabilitas produksi pangan mereka. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, Indonesia justru menempati posisi yang relatif kuat berkat kapasitas industri pupuk nasionalnya. Industri ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi penyuplai bagi negara lain.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa ketahanan industri pupuk merupakan salah satu pilar kekuatan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global. Gangguan di Selat Hormuz, misalnya, telah menyebabkan banyak negara kesulitan dalam memperoleh dan mengelola pasokan pupuk, yang secara langsung berimbas pada kemampuan mereka untuk mempertahankan produksi pangan.

“Dalam situasi terganggunya Selat Hormuz, banyak negara menghadapi kesulitan memperoleh ataupun mengelola pasokan pupuk. Akibatnya, mereka juga mengalami kesulitan dalam menjaga produksi pangan,” ujar Airlangga dalam Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat malam.

Berbeda dengan negara-negara yang terdampak tersebut, Airlangga menilai Indonesia memiliki keunggulan karena didukung oleh industri pupuk yang relatif solid. Salah satu bukti nyata adalah kemampuan Indonesia untuk mengekspor pupuk urea hingga mencapai sekitar 1,5 juta ton.

“Indonesia mempunyai kekuatan dari industri pupuk kita. Untuk pupuk urea, misalnya, kemampuan ekspor kita sekitar 1,5 juta ton,” ungkapnya.

Posisi strategis ini memungkinkan Indonesia tidak hanya menjaga ketersediaan pasokan untuk mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga mendapat permintaan dukungan pasokan pupuk dari sejumlah negara lain yang mengalami gangguan pasokan global.

“Karena itu, banyak negara meminta dukungan pasokan dari Indonesia, termasuk Australia dan berbagai negara sahabat lainnya,” tambah Airlangga.

Kekuatan industri pupuk menjadi semakin relevan di tengah gejolak geopolitik yang tidak hanya menekan perdagangan dunia, tetapi juga merambat ke sektor energi dan logistik. Airlangga menggarisbawahi tekanan pada sektor energi dan logistik sebagai salah satu transmisi utama dari dinamika geopolitik global yang kini harus dihadapi Indonesia.

Dalam konteks ini, keberadaan industri pupuk domestik memberikan keuntungan ganda. Selain memperkuat kemampuan Indonesia dalam menjaga produksi pangan, kapasitas yang tersedia juga membuka peluang ekspor ketika negara-negara lain menghadapi kendala pasokan. Dengan demikian, pupuk tidak hanya menjadi instrumen ketahanan ekonomi, tetapi juga sumber peluang di tengah krisis global.

Kondisi tersebut juga menegaskan pentingnya penguatan industri yang berbasis pada kebutuhan strategis. Di saat banyak negara mulai menerapkan kebijakan protektif dan berupaya mengamankan pasar serta pasokan domestik mereka masing-masing, kemampuan memproduksi komoditas vital di dalam negeri memberikan daya tahan yang lebih besar terhadap guncangan eksternal.

Airlangga sebelumnya telah berulang kali menekankan pentingnya Indonesia memperkuat sumber daya dan industri domestik guna menghadapi tekanan global. Di sektor energi, misalnya, pemerintah terus mendorong pemanfaatan sumber energi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meredam dampak fluktuasi harga internasional.

Dengan kapasitas industri pupuk yang dimiliki, Indonesia berpotensi memainkan peran lebih besar di tengah gangguan rantai pasok global. Peran ini tidak hanya terbatas pada menjaga ketahanan pangan sendiri, tetapi juga berkontribusi sebagai salah satu pemasok utama yang menopang kebutuhan pangan negara-negara lain.