— Ekosistem investasi emas di Indonesia terus berkembang, ditandai dengan munculnya layanan bullion dan bank emas. Inisiatif ini memperluas pemanfaatan emas, yang selama ini dikenal sebagai instrumen investasi dan safe haven, agar lebih terintegrasi dengan sistem keuangan melalui berbagai produk investasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa ekosistem bullion dan bank emas yang diluncurkan sejak tahun lalu telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Total pengelolaan emas dalam ekosistem ini kini mencapai hampir 180 ton, dengan nilai taksiran mencapai sekitar Rp 360 triliun.

“Kita melihat bahwa melalui ekosistem bullion dan bank emas ini, jumlah emas yang dikelola mencapai hampir 180 ton, dengan nilai sekitar Rp 360 triliun,” ujar Airlangga dalam acara Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8/2026) malam.

Airlangga menjelaskan, nilai tambah utama dari pengembangan bullion terletak pada peningkatan pemanfaatan emas dalam ekosistem keuangan. Sebelumnya, emas lebih banyak disimpan sebagai aset dan belum optimal dimanfaatkan dalam sistem perbankan.

“Ini memberikan nilai tambah tersendiri karena sebelumnya emas lebih banyak hanya dilihat sebagai aset, tetapi belum banyak digunakan dalam ekosistem perbankan,” katanya.

Perkembangan layanan bullion melalui Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian mulai mengubah kondisi tersebut. Kehadiran bank emas memfasilitasi keterhubungan emas dengan layanan keuangan, sekaligus menawarkan alternatif pengelolaan aset dan investasi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Dengan adanya bullion bank, baik melalui Bank Syariah Indonesia maupun Pegadaian, perkembangannya menjadi luar biasa karena emas kemudian makin berfungsi sebagai safe haven investment,” tegas Airlangga.

Dari Emas Fisik ke Produk Keuangan

Pengembangan ekosistem emas tidak hanya terbatas pada kepemilikan dan transaksi emas fisik. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan instrumen turunan berbasis emas, termasuk exchange traded fund (ETF). Langkah ini membuka peluang diversifikasi produk investasi emas dan pendalaman pasar keuangan nasional.

“Apalagi, kita juga sudah mendorong instrumen turunan dari emas, yaitu ETF. Jadi, potensi untuk menarik investasi sekaligus mengembangkan pengelolaan emas di Indonesia masih sangat tinggi,” tutur Airlangga.

Penguatan ekosistem ini dinilai strategis mengingat Indonesia juga memiliki basis produksi emas domestik. Dengan menghubungkan produksi lokal dengan layanan bullion, perbankan, hingga pengembangan instrumen investasi, emas memiliki potensi lebih besar untuk memberikan nilai tambah di dalam negeri.

Potensi tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pemulihan produksi dari fasilitas copper smelter. “Kalau produksi dari copper smelter-nya sudah kembali sehat, tentu potensinya akan makin meningkat lagi,” ujar Airlangga.