— WASHINGTON – Laju inflasi tahunan Amerika Serikat (AS) tercatat melandai ke level 3,4% pada Juli 2026, menandai penurunan selama dua bulan berturut-turut. Laporan terbaru dari Bureau of Labor Statistics pada Rabu (12/8/2026) menyebutkan bahwa penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan harga konsumen.

Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), inflasi tahunan turun dari 3,5% pada Juni 2026 menjadi 3,4% year-on-year (YoY) pada Juli 2026, sesuai dengan estimasi konsensus pasar. Secara bulanan (month-on-month/MoM), CPI menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,1%, berbalik arah dari penurunan 0,4% yang terjadi pada Juni 2026.

Penurunan harga energi sebesar 1,5% menjadi pendorong utama meredanya inflasi, dengan harga BBM secara spesifik merosot 2,9% secara bulanan. Indeks sektor perumahan (shelter), yang menyumbang sepertiga dari total CPI, hanya tumbuh tipis 0,1% seiring dengan penurunan tarif akomodasi hotel dan penginapan. Di sektor pangan, harga bahan makanan di supermarket juga mengalami penurunan 0,1% MoM, dengan laju tahunan berada di level 2,7%.

Melandainya inflasi energi ini terjadi bersamaan dengan kemajuan pembicaraan damai terkait konflik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat memicu gejolak pada jalur pelayaran Selat Hormuz. Sementara itu, inflasi inti (Core CPI), yang mengecualikan komponen harga pangan dan energi yang bergejolak, tercatat naik 0,2% secara MoM. Laju tahunannya kini berada di level 2,5%, menyamai level terendah yang dicapai pada awal tahun ini.

Data inflasi ini memperkuat optimisme bahwa tekanan harga mulai mereda, meskipun angka tersebut masih berada di atas target bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), sebesar 2%. Kondisi ini memberikan ruang bernapas bagi The Fed, yang dipimpin oleh Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh, untuk meredam urgensi kenaikan suku bunga acuan (hawkish).

Bagi pasar keuangan Indonesia, meredanya risiko hawkish surprise dari The Fed memberikan sinyal positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Stabilnya ekspektasi suku bunga AS berpotensi menjaga kelanjutan aliran modal asing (foreign inflow) ke negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Perekonomian global sepanjang semester I-2026 sempat dibayangi ancaman stagflasi akibat melonjaknya harga komoditas energi pasca-eskalasi militer dan penutupan jalur maritim Selat Hormuz pada Februari 2026. Gejolak tersebut mendorong angka inflasi AS ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan memaksa The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang sangat ketat.

Meskipun laju CPI Juli 2026 menunjukkan tren pendinginan, pemulihan ekonomi konsumen di AS masih menghadapi tantangan. Pertumbuhan upah pekerja yang berada di kisaran 3,2% dinilai belum sepenuhnya mampu mengejar akumulasi kenaikan harga barang dan jasa. Oleh karena itu, dinamika kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar global.