DailyFX.ID — JAKARTA – Rencana pemangkasan insentif pembelian motor listrik dari Rp5 juta menjadi Rp3 juta per unit dinilai dapat menjaga ketahanan fiskal negara. Kebijakan ini ditargetkan mulai berlaku paling cepat pada September 2026.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahmandi mengatakan, pemangkasan insentif tersebut akan membuat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih terkendali dari sisi fiskal. Namun, ia mengakui, daya dorong insentif untuk mendongkrak penjualan motor listrik akan menjadi lebih terbatas, meskipun tetap memberikan daya tarik bagi konsumen.
“Untuk konsumen motor yang sensitif terhadap harga, besaran ini lebih berfungsi sebagai pemanis daripada faktor utama untuk beralih ke kendaraan listrik,” jelas Rizal. Ia menambahkan, persoalan utama penyerapan motor listrik bukan pada besaran subsidi, melainkan seberapa efektif setiap rupiah insentif dapat menghasilkan tambahan penjualan dan nilai tambah ekonomi.
Oleh karena itu, Rizal mendorong pemerintah untuk menyiapkan skema insentif yang lebih terarah. Skema tersebut bisa dikaitkan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), produksi domestik, industri baterai, dan pengguna dengan intensitas mobilitas tinggi. Dengan begitu, manfaat insentif tidak hanya berhenti pada diskon harga, tetapi juga ikut memperkuat industri nasional dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman menjelaskan, ada empat kriteria utama yang harus dipenuhi dalam pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) untuk membangun ekosistem kendaraan listrik sekaligus memacu daya saing. Pertama, Molinas harus memiliki TKDN di atas 60% yang mencakup komponen utama seperti power train, frame/structure, serta plastik dan body panel.
Kedua, desain dan rekayasa Molinas harus dikembangkan di dalam negeri. Ketiga, harus memanfaatkan baterai berbasis nikel untuk mendukung hilirisasi nasional. Keempat, harga Molinas harus terjangkau sesuai kebutuhan pasar domestik.
Atong menyatakan, fokus utama Molinas adalah membangun kemampuan desain, engineering, manufaktur, teknologi, serta rantai pasok dalam negeri. Peluang pengembangan motor listrik nasional masih sangat besar mengingat populasi motor konvensional Indonesia mencapai 145,25 juta unit, dengan penetrasi motor listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025. Proyeksi permintaan motor listrik pada 2028 mencapai 1,5 juta unit.
Program Molinas diperkirakan memberikan penghematan subsidi BBM sebesar Rp82,2 triliun dalam kurun waktu 2027 hingga 2037, dengan asumsi 11 juta unit beroperasi pada 2037. Selain itu, ekosistem program ini diperkirakan memberikan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun sepanjang 2026–2031, serta menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, dan infrastruktur pengisian daya. Program ini juga memperkuat neraca perdagangan melalui substitusi impor minyak senilai Rp45 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp3 triliun untuk insentif terhadap 1 juta unit motor listrik. Setiap pembelian motor listrik akan mendapatkan insentif sebesar Rp3 juta dari pemerintah.
“Kalau kita lihat, 1 juta motor listrik itu pasti enggak habis tahun ini, masing-masing insentif Rp3 juta,” kata Purbaya di Jakarta pada Kamis (20/8/2026). Ia menambahkan, pemerintah sedang mengkaji lebih lanjut tentang daya serap insentif ini. Pemerintah juga memperhatikan kemampuan industri nasional dalam menghasilkan motor listrik dalam satu tahun.
“Kan, kapasitas produksi motor nasional belum sampai 1 juta. Ada yang cuma 20.000, saya pikir paling 100.000 sampai akhir tahun. Jadi nanti saya pikirkan apa bisa ditambah,” terang Purbaya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa pemerintah menyiapkan insentif untuk 1 juta unit motor listrik yang diproduksi perusahaan dalam negeri sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik tidak semata-mata ditujukan untuk mengurangi beban subsidi energi, melainkan juga untuk meningkatkan efisiensi pengeluaran masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi dan industri nasional.
“Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Kemarin pemerintah meluncurkan ekosistem motor listrik nasional dan memberikan insentif untuk satu juta motor yang diproduksi oleh perusahaan Indonesia,” tutur Prabowo.
Presiden menjelaskan, penggunaan motor listrik di Indonesia diharapkan memberikan tiga dampak utama. Pertama, penghematan biaya transportasi bagi keluarga. Ia memprediksi pengeluaran harian masyarakat untuk transportasi dapat turun hingga lebih dari 50%, bahkan berpotensi hanya sekitar 30% dibandingkan biaya BBM saat ini. Dampak kedua adalah berkurangnya impor energi yang selama ini membebani neraca perdagangan Indonesia. Adapun dampak ketiga berupa terbukanya lapangan kerja dan sumber penghasilan baru bagi generasi muda seiring dengan pertumbuhan industri otomotif dalam negeri.
“Setiap motor listrik yang berjalan di Indonesia memiliki tiga kemenangan, yakni penghematan bagi keluarga, pengurangan impor energi, dan pekerjaan serta penghasilan bagi anak-anak Indonesia,” terang Prabowo.
Ikuti DailyFX.ID
